Pusat Penelitian BIOLOGI - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Institusi

  .:: Berita - Detil ::.

Penelitian

Pandangan

Umum

Pengunjung


 
Wabah "Tomcat" Fenomena Alam Biasa

 
No Image
Foto : Koran Jakarta

Beberapa hari terakhir ini, masyarakat dikejutkan dengan wabah tomcat (semut semai). Serangga sejenis kumbang yang biasa hidup di areal pertanian itu, belakangan, ditemukan di rumah warga. Hewan itu sebetulnya tidak berbahaya, namun racunnya dapat membuat gatal kulit.

Di beberapa daerah, seperti Jawa Timur, Yogyakarta, Bekasi, dan Jakarta, ada sebagian warga yang terkena racunnya. Biasanya, kulit akan terasa panas dan gatal jika terkena racun tomcat.

Seperti apa bahaya racun hewan ini dan bagaimana menanggulanginya? Beberapa waktu lalu, wartawan Koran Jakarta, Mochamad Ade Maulidin, mewawancarai pakar serangga (entomologi) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hari Sutrisno. Berikut petikannya.

Dari mana asal mula nama tomcat?

Sebenarnya itu umum saja. Ada yang menamakan semut kayap dan kumbang tomcat. Sebenarnya, tomcat adalah nama pestisida di Eropa yang digunakan untuk memberantas serangga. Dia disebut tomcat karena serangga ini termasuk predator. Jadi, (dia) bisa membunuh serangga yang menjadi musuh petani. Pada kenyataannya, tomcat memang merupakan predator hama wereng.

Apa nama ilmiah tomcat?

Untuk yang berkembang saat ini di Surabaya adalah Paederus fuscipes. Ada berapa jenis paederus di dunia? Di atas 600 jenis. Yang ada di Indonesia tercatat dari Pusat Biologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-red) ada 14 jenis. Dari 14 jenis itu, yang merajalela adalah Paederus fuscipes. Jenis itu yang paling umum dan penyebarannya paling luas. Jenis itu tersebar dari Asia Tengah, yaitu Iran, Afganistan, India, dan Jepang, serta Indo Australia, yakni Malaysia, Indonesia, dan Australia.

Apa semua jenis tersebut termasuk predator?

Ya, predator. Habitatnya sangat beragam. Dia termasuk serangga yang hidup di mana saja, seperti di taman, di hutan, taman kota, di hutan rawa, serta di sawah yang memang habitat utamanya, sepanjang menemukan pakannya, seperti serangga-serangga yang biasanya makan tanaman atau pitopakus. Yang dimakan adalah (serangga) pradewasa seperti telor, kupan, dan infa. (Serangga) dewasa jarang (dimakan) karena serangga ini berjalan dan mengejar berburu.

Dia tidak terlalu aktif terbang. Beda dengan capung dan lainnya yang mencari makannya (dengan) terbang. Dia hanya menjelajahi. Kadang-kadang dia disebut kumbang jelajah karena terus mencari pakannya.

Apa yang menyebabkan tomcat cepat menyebar ke berbagai daerah?

Tomcat itu hewan kosmopolitan. Dia sudah ada dari Sabang sampai Merauke. Artinya, di Aceh, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, dan Bekasi ada.

Kalau selama ini habitatnya di (areal) padi, kalau tanaman padinya mulai panen, dia menyebar ke tempat yang lain karena di padi tidak ada tempat untuk mencari makan.

Mengapa perkembangbiakan atau penyebarannya terlalu cepat seperti saat ini?

Perlu dipahami oleh masyarakat bahwa siklus hidup serangga itu suatu waktu mencapai puncak. Ketika berkembang biak mencapai populasi yang puncak, kemudian dia akan turun (populasinya). Faktor itu (berkembang biak) banyak yang memengaruhi, salah satunya ketika jumlah pakan itu melimpah.

Perlu diketahui, bulan Maret dan April, pakan dia tersedia melimpah karena serangga-serangga pemakan daun pada saat ini masuk pradewasa. Artinya, banyak ditemukan telur, limpa, ulat, dan seranggaserangga lain. Ketika pakannya banyak, dia akan makan banyak, reproduksinya akan naik.

Jika tidak diimbangi pemangsa, ya otomatis populasi meningkat.

Apa hewan pemangsanya?

Kodok dan kadal, tapi populasinya sangat kurang (sekarang) karena kerusakan habitat. Kadal dan kodok biasanya di daerah sedikit lembap atau perairan. Itu (akibat) sudah terkonversi. Ini salah satu yang menyebabkan populasi tidak imbang dan tidak ada yang kontrol.

Harusnya predator satu ada, predator tingkat dua ada, dan produsen. Katakanlah kalau pederus itu predatornya kadal dan kodok, tingkat duanya adalah kadal dan ular, tingkat tiganya burung. Ketika salah satu link ini hilang, pasti akan terjadi gejolak kenaikan yang drastis.

Jadi, hanya itu penyebabnya?

Ini perlu dipahami sebagai fenomena alam biasa. Ketika kadal dan kodok tidak bisa mengimbangi, nanti ada serangga atau patogen lain yang mampu mengontrol pederus ini sehingga populasinya akan menurun juga ketika sampai puncak. Maret dan April adalah konsekuensi logis dari musim kelembapan yang tinggi, hujan juga masih banyak.

Ketika masuk bulan akhir April, akan kurang hujan seperti sekarang ini (populasinya), akan turun kembali karena pakannya masuk dewasa dan tidak bisa diburu dan tidak gampang dikejar. Pemangsanya sudah mengikuti dia, pemangsa juga akan mencari dia.

Apa kejadian itu terus berulang setiap Maret dan April setiap tahun?

Maret dan April memang puncak reproduksi. Kejadian bukan kali ini saja, tapi kejadian-kejadian tahun 2004, 2005, dan 2008, cuma kasus terbesar terjadi di Surabaya tahun ini yang paling masif. Saya katakan masif karena yang terserang kota.

Kota kan padat penduduk, lampunya juga kuat. Setiap orang menyalakan lampu. Sebenarnya orang yang punya potensi adalah orang yang dekat dengan persawahan.

Pelajaran apa yang dapat diambil dari kasus ini?

Kita ambil hikmahnya bahwa kita hidup di biodiversity yang tinggi. Suatu konsekuensi logis ketika melakukan sesuatu yang tidak benar. Kalau ini kerusakan lingkungan, dampaknya memang tidak langsung.

Ketika lingkungan itu rusak, memang pederus-nya banyak faktornya. Katakanlah udara di situ panas atau lembap, itu bisa memengaruhi. Terus ada habitat yang hilang, padahal justru itu musuh si pederus ini.

Apakah pernah ada fenomena unik dari pertumbuhan atau penyebaran hewan di Indonesia?

Di daerah Sulawesi, pernah ada serangan kelelawar. Menurut ahli mamalogi, itu sesuatu yang biasa. Pada waktu (itu) jumlah ulat bulu juga pernah luar biasa.

Fenomenafenomena itu dapat dijawab secara logis. Tomcat ini bukan serangga malam, cuma dia aktifnya siang cari makan, tetapi begitu ada sinar merkuri seperti model lampu TL, dia tertarik. Kalau neon model lama, dia tidak tertarik. Itu pernah dibuktikan dengan penelitian di Malaysia pada 2005. Hasil penelitian saya juga begitu.

Apakah tomcat mengancam kehidupan manusia?

Tidak, hewan itu hanya tertarik pada lampu. Mungkin di sekitar itu habis panen atau bisa saja di tempat itu ditemukan banyak pakan, ada taman kota dan macam-macam, serta lampu sinar merkuri yang membuat dia datang. Bagaimana cara mengatasi apabila terkena racun itu? Langkah bagus yang paling awal adalah menurunkan kadarnya.

Kalau membasuh dengan sabun, kadar yang ada di sini turun. Daya serang terhadap kulit kita akan turun. Sabun artinya untuk disinfektan (mengurangi infeksi dari luar). Dermatitis suatu hal yang biasa di dunia. Dokter-dokter kulit sudah paham.

Apakah dampak racun tomcat langsung terasa seketika di kulit manusia?

Tomcat ini 12–36 jam serangan baru terasa. Kalau kena malam, pasti paginya gatal-gatal dan panas. Kemudian, bengkak dan bintil-bintil merah terus melepuh. Yang bahaya kalau alergi racun ini.

Sebenarnya apa manfaat tomcat bagi manusia?

Petani itu bisa budi daya tomcat untuk menekan (populasi) wereng. Kita tidak kebayang apabila tidak ada tomcat, wereng kita sudah merajalela luar biasa. Hasil penelitian itu saya baca 1,2 nimpa (wereng) per tiga jam. Kemudian, kemarin hasil presentasi Dinas Pertanian sembilan wereng per hari. Kalau jumlahnya masif, itu kan pengendalian yang luar biasa. Jadi manfaatnya luar biasa. AR-4



Artikel ini ditulis oleh Koran Jakarta : Jumat, 06 April 2012
Artikel ini diunggah oleh Pramono pada tanggal 09 April 2012
 

Copyright ©2011 biologi.lipi.go.id

Supported by CM & BRC Project LIPI - JICA
Research Center For Biology - Cibinong Science Center (CSC)
JL. Raya Jakarta - Bogor Km.46 Cibinong 16911 Bogor - Indonesia
Phone:+62(0)21-87907604/87907636 Fax : +62(0)21-87907612 biologi@mail.lipi.go.id