Pusat Penelitian BIOLOGI - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Institusi

  .:: Berita - Detil ::.

Penelitian

Pandangan

Umum

Pengunjung


 
Konservasi dan Pemanfaatan Plasma Nutfah Satwa Nusantara

 
No Image

Telah berlangsung “Seminar Nasional Konservasi dan Pemanfaatan Plasma Nutfah Satwa Nusantara” pada hari Rabu 5 September 2012 di Gedung Kusnoto Puslit Biologi LIPI, Bogor, yang diselenggarakan atas kerjasama Komisi Ilmu Pengatahuan Dasar Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, dengan Fakultas Kedokteran Hewan IPB dan Pusat Penelitian Biologi LIPI dan dibuka secara resmi oleh Ketua Komisi IPD AIPI, Mien A. Rifai, , di lanjutkan dengan kata pengantar dari  Dekan FKH-IPB Srihadi Agungpriyono yag menekankan makna “Learning from animals”./>
“Tujuan Semnas adalah untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab pemangku kepentingan untuk melakukan konservasi, pemanfaatan, dan pengembangan berkelanjutan terhadap plasma nutfah satwa kawasan untuk pangan dan pertanian, ketahanan pangan, peningkatan status kesehatan dan gizi manusia, pengembangan masyarakat pedesaan, dan pelestarian biodiversitas satwa”,ujar Djokowoerjo Sastradipradja anggota IPD-AIPI sebagai  penggagas kegiatan.

Menghimpun pemikiran untuk mengembangkan metode konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan yang sesuai dengan kondisi usaha berskala kecil sosio-ekonomi masyarakat Indonesia, dengan tetap memperhatikan aspek teknologi reproduksi, pemuliaan dan pengelolaan usaha plasma nutfahnya, juga merupakan sasaran pertemuan “, himbaunya.

Dipenghujung pengantarnya, Djoko mentargetkan untuk menghasilkan antologi hasil kajian AIPI mengenai berbagai masalah yang terkait dengan konservasi dan pemanfaatan plasma nutfah satwa nusantara secara berkelanjutan.

Hadir sebagai peserta seminar, para Anggota Komisi IPD AIPI,  FKH-IPB dan Puslit Biologi LIPI, juga wakil wakil dari berbagai Kementerian terkait, universitas/Perguruan Tinggi seperti Univ. Syahkuala, Univ. Lampung, Univ. Indonesia, beberapa PT di Jabotabek, Univ. Padjadjaran, ITB, Univ. Diponegoro, Univ. Airlangga, Univ. Brawijaya, beberapa univ. dan PT di Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, Lembaga-lembaga penelitian seminat, Kemenristek, Kementan, kemenhut, CIVAS, instansi-instansi pemerhati plasma nutfah, serta perhimpunan-perhimpunan seminat.

Umumnya, dipandang ada 3 kelompok penyebab erosi genetik satwa, ialah: kecenderungan/trends di sektor livestock; bencana dan keadaan darurat (banjir, tsunami, kebakaran tak terkendali); serta epidemi penyakit hewan termasuk zoonosis (menuntut penanganan kontrol NED/NRED).

Sebagai pemakalah sesi pertama yang dipandu oleh Umar Anggara Jenie, Guru Besar Fakultas Farmasi UGM selaku Anggota AIPI,  Siti Nurmaliati Prijono (Lily) , Kepala Puslit Biologi LIPI memaparkan  Satwa Nusantara yang dilanjutkan dengan Noviar  Andayani dari UI dengan mengangkat Keanekaragaman satwa Nusantara: sejarah, manfaat dan Konservasinya

Sumberdaya genetik ternak lokal indonesia dan peran bioteknologi dalam peningkatan mutu genetik ternak sebagai penyedia bibit ternak nasional secara berkelanjutan disampaikan oleh Muladno Ketua Himpunan Ilmuwan Peternakan Indonesia

Upaya Pemerintah dan Masyarakat Dalam Memanfaatkan Sumberdaya Genetik Ternak Asli Indonesia: Kasus Sapi Bali  dengan sangat menarik di sampaikan  oleh  Kusuma Diwyanto dari Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia disambung dengan topik Peran bioteknologi reproduksi dalam konservasi sumberdaya genetik ternak lokal Indonesia dari Agus Setiadi dari FKH-IPB

Beberapa penyakit yang berpotensi mengancam eksistensi plasma nutfah satwa nusantara dan munculnya new emerging diseases dan re-emerging diseases  dijelaskan  dengan gambling oleh I Wayan Teguh Wibawan FKH IPB; Komisi Kesehatan Hewan Nasional.

Dipenghujung sesi ke dua, di usung tajuk ” Perlindungan Satwa Liar yang Bermanfaat bagi Kesehatan dan Kesejahteraan Manusia: Contoh Kasus Penangkaran Satwa Primata” oleh Joko Pamungkas dari Pusat Studi Primata IPB.

 


Beberapa butir kesimpulan yang dapat dirumuskan mencakup:



  1. Kekayaan keanekaragaman (biodiversitas) plasma nutfah satwa Nusantara, khususnya ternak, yang cukup tinggi merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus dijaga kelestariannya serta dioptimalkan pemanfaatannya bagi generasi penerus bangsa Indonesia secara berkelanjutan. Puluhan rumpun ternak asli Indonesia dan ratusan rumpun ternak yang telah teradaptasi dengan kondisi lokal Indonesia merupakan potensi besar sebagai penyedia bahan baku pangan dan bahan baku industri di Indonesia.

  2. Dari potensi fauna yang begitu besar, yang dibudidayakan untuk manfaat kepentingan peri kehidupan bangsa Indonesia baru sebahagian saja, seperti yang sudah dilakukan sejak zaman Mojopahit yaitu  ikan bandeng dan domestikasi ikan tambra/ikan kancra atau ikan batak (Labeobarbus tambriodes) yang dilakukan oleh keluarga batak di Sumatra; banyak yang belum dimanfaatkan untuk tujuan produksi maupun perbaikan mutu genetik bangsa-bangsa satwa seperti banteng liar yang merupakan " stock " bibit masa depan.

  3. Dalam rangka meningkatkan produktivitas ternak sebagai penyedia bahan baku pangan, kebijakan pemerintah dalam memanfaatkan teknologi inseminasi buatan selama puluhan tahuan dengan menyilangkan ternak asli dan ternak lokal (khususnya sapi) dengan ternak exotic (impor) telah berhasil meningkatkan produksi daging dan susu secara nasional. Namun demikian, karena implementasi program persilangan tidak dilakukan secara terencana dan terarah, perhatian terhadap mutu genetik ternak lokal Indonesia sangat rendah karena banyak pihak mengklaim bahwa ternak hasil
    persilangan selalu lebih besar dan lebih menguntungkan secara ekonomis daripada rumpun ternak lokal. Demikian juga untuk implementasi teknologi transfer embrio.

  4. Karena hampir semua komoditas ternak asli/lokal di Indonesia tidak atau kurang diperhatikan, usaha perbibitan ternak lokal kurang dikembangkan sehingga tidak tersedia ternak berkualifikasi bibit dalam jumlah besar. Bahkan untuk komoditas sapi dan kerbau, tidak ada satu ekor pun yang dapat dikategorikan sebagai bibit karena tidak adanya catatan asal-usul dan catatan produktivitasnya secara genetik. Sebaliknya, mutu genetik ternak lokal terus menurun dan beberapa rumpun ternak berstatus langka, kritis, dan hampir punah.

  5. Selain karena sebagian besar ternak lokal dikelola peternak berskala kecil sebagai usaha sampingan, kemunduran mutu genetik sumberdaya genetik ternak juga disebabkan karena perilaku eksploitatif manusia yang lebih mengutamakan kepentingan ekonomi tanpa mempedulikan keberlanjutannya, atau karena bencana alam dan keadaan darurat, epidemi penyakit hewan termasuk zoonosis. Untuk penyebab yang dapat dikontrol, perlu ada upaya pencegahan kemerosotan mutu genetik ternak lokal.

  6. Pemanfaatan bioteknologi molekuler untuk perbaikan mutu genetik ternak lokal kurang efektif karena tidak tersedianya data produksi dan reproduksi pada hampir semua komoditas ternak sebagai akibat tidak adanya usaha perbibitan ternak yang dikelola secara professional dalam populasi besar. Usaha perbibitan ternak yang dilakukan peternak berskala kecil memiliki banyak kelemahan di hampir semua aspek usaha.

  7. Menyadari bahwa konservasi biodiversitas yang mengoptimalkan pemanfaatan ternak lokal dengan memperhatikan pelestariannya mutlak diperlukan, maka Program perbibitan ternak lokal harus digencarkan; Usaha perbibitan ternak yang telah dilakukan pemerintah melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT Pusat) dan UPT Daerah perlu lebih mengutamakan rumpun ternak asli/lokal serta perlu ditata ulang; Berbagai kebijakan pemerintah yang sejalan dengan arah pengembangan bibit ternak lokal perlu disosialisasikan; Selain itu, komitmen pemerintah untuk menjalankan semua kebijakan
    yang telah disusunnya perlu dijamin konsistensinya; Etnozoologi dan  Perubatanetno (ethnomedicine) satwa harus menjadi perhatian kita (jenis-jenis ular, serangga, dan lainnya yang mempunyai  bisa yang sekarang dipakai obat; dalam kaitan ini harus diupayakan adanya Bank Genom dan kriopreservasi mulai dari DNA sampai sperma dan embrio dari satwa liar, satwa domestikasi maupun ternak. Dari segi pemanfaatan satwa primata sebagai dalam penelitian biomedis secara lestari, maka penting melakukan penangkaran sp Indonesia sebagai pendukung kegiatan penelitian biomedis ; dan Penelitian
    menggunakan sp Indonesia mendukung konsep penyediaan hewan laboratorium mendukung rantai evaluasi “dari laboratorium ke percobaan klinik”.

  8. Perlu lebih mengefektifkan kegiatan konservasi, sinergi antara pemerintah, akademisi/peneliti, pelaku usaha, dan komunitas mutlak diperlukan dengan memainkan peran masing-masing pihak tersebut sesuai dengan kompetensi dan tanggungjawabnya dalam kerangka visi yang sama untuk melestarikan dan memanfaatkan biodiversitas ternak asli/lokal secara optimal dan berkelanjutan.

  9. Belajar dari kegiatan konservasi biodiversitas ternak asli/lokal Indonesia, ke depan bangsa Indonesia harus lebih mengedepankan pendekatan imu pengetahuan dan teknologi yang digali dari kekayaan bangsa Indonesia sendiri untuk kemajuan manusia Indonesia dalam berkompetisi secara internasional di komunitas global.


Semnas ditutup secara resmi  oleh Sekretaris fakultas FKH IPB Agus Setiyono dengan harapan, hasil semnas akan  dapat diteruskan pada seluruh stakeholder terkait juga para pegiat ilmu seminat serta sebagai masukan bagi penyusunan kebijakan pemerintah dalam mendukung pembangunan nasional.(asw/aipi/humasristek)



Artikel ini ditulis oleh RISTEK : Thursday, September 6, 2012
Artikel ini diunggah oleh Pramono pada tanggal 07 September 2012
 

Copyright ©2011 biologi.lipi.go.id

Supported by CM & BRC Project LIPI - JICA
Research Center For Biology - Cibinong Science Center (CSC)
JL. Raya Jakarta - Bogor Km.46 Cibinong 16911 Bogor - Indonesia
Phone:+62(0)21-87907604/87907636 Fax : +62(0)21-87907612 biologi@mail.lipi.go.id