Pusat Penelitian BIOLOGI - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Institusi

  .:: Berita - Detil ::.

Penelitian

Pandangan

Umum

Pengunjung


 
MELONGOK PANEN PERDANA SORGUM DI SIDOHARJO : Bukannya Dikonsumsi, Justru untuk Bikin Sapu

 

 


Petani asal Dusun/Desa Widoro, Kecamatan Sidoharjo, Al Adiyat, panen perdana sorgum (sejenis gandum-ganduman), Selasa (29/1) kemarin. Ladang miliknya juga didatangi peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sarjiya Antonius. Uniknya, hasil panen perdana ini bukan untuk tujuan konsumsi melainkan dijual sebagai bahan baku pembuatan sapu di Kabupaten Tegal.

“Lahan yang saya tanami total seluas 8.000 meter persegi, berada di Dusun Wates dan Gunan, Desa Mojorejo dan di Dusun/Desa Widoro. Ini panen pertama. Yang dijual justru bukan isinya tapi batang yang di bagian biji berada. Dipotong sekitar 35 sentimeter dan nantinya akan dijual untuk bahan membuat sapu,” katanya saat ditemui di  lahannya di Dusun Gunan.

Dituturkan, sekali tanam petani bisa memanen sempat kali. Panen pertama sejak penanaman bisa dilakukan saat umur 55 hari. Setelah dipanen (dipangkas) pertama, untuk panen selanjutnya tanaman siap pangkas dalam waktu 45 hari.

Terkait harga jual per kilogram batang beserta tempat biji berada tergantung kering atau tidaknya. Jika dijual dalam keadaan basah hanya laku Rp 5.500 per kilogram. Sementara dalam kondisi kering bisa laku hingga Rp 10.000 per kilogram. “Untuk biji dan daun, setelah tidak bisa dipanen lagi kami belum ada solusi untuk apa. Tapi dalam waktu dekat ini mungkin hanya untuk makanan ternak saja,” lanjutnya.

Sementara itu Anton mengatakan berkunjung ke lahan itu karena Al Dayat menggunakan pupuk organik dengan enzim biang hasil dari pengembangan LIPI. Pupuk ini terbuat dari tepung ikan, kecambah, tetes tebu, agar-agar, tepung jagung, tepung kedelai, dan dicampur dengan air kelapa.

“Starter (biang enzim) yang kami kembangkan dengan nama Beyonik Starmix ini menghasilkan mikroba yang secara langsung bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan dan mudah serta langsung mengarah ke akar. Aktivitas enzim ini langsung berdampak pada perkembangan akar. Akar baik maka asupan makanan ke batang terjamin. Enzim juga bisa menghasilkan hormon tumbuh,” kata dia.

Enzim inilah yang saat ini tengah diperkenalkan ke seluruh petani di Indonesia. Karena bisa juga untuk pupuk sayuran dan tanaman lain. Bahkan kacang tanah. “Membuatnya mudah dan enzim temuan kami bebas digunakan. Kalau petani bisa membuat sendiri lebih efisien. Kalau beli jadi di pasar bisa Rp 30.000 sampai Rp 100.000 per liter. Kalau buat sendiri hanya Rp 10.000 per liter. Bedanya, enzim kami yang secara kualitas lebih baik dan bebas digunakan,” lanjutnya.

Di Wonogiri, menurut perwakilan Asosiasi Pupuk Organik Wonogiri, Edi Mulyono, pupuk ini sudah mulai dikenalkan di Kecamatan Wonogiri, Sidoharjo, Slogohimo, Giriwoyo, Selogiri, Jatisrono, dan Ngadirojo.

Sedangkan untuk proyek rintisan pembuatan pupuk ini menurut Anton ada di Kabupaten Ngawi.



Artikel ini ditulis oleh Joglo Semar : Rabu, 30/01/2013
Artikel ini diunggah oleh Pramono pada tanggal 01 Februari 2013
 

Copyright ©2011 biologi.lipi.go.id

Supported by CM & BRC Project LIPI - JICA
Research Center For Biology - Cibinong Science Center (CSC)
JL. Raya Jakarta - Bogor Km.46 Cibinong 16911 Bogor - Indonesia
Phone:+62(0)21-87907604/87907636 Fax : +62(0)21-87907612 biologi@mail.lipi.go.id