• 12.jpg
  • 13.jpg
  • 14.jpg
  • 15.jpg
  • 16.jpg
  • 17.jpg
  • 18.jpg

Bidang Botani

Herbarium Bogoriense(BO)

Botany

Read more

Bidang Zoologi

Bidang Mikrobiologi

Informasi Kehati

Produk Puslit Biologi

 

tikus

Cibinong, Humas LIPI. Data Kementerian Kesehatan selama tahun 2019 mencatat terdapat 845 kasus leptospirosis di Indonesia, 125 diantaranya meninggal dunia. Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Media perantaranya adalah urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Beberapa jenis hewan pembawa leptospirosis adalah anjing, tikus, sapi dan babi. Bakteri tersebut dapat bertahan hidup dalam ginjal hewan yang terinfeksi.

“Berdasarkan tinjauan zoonosis sebagai inang penyakit, tikus berperan sebagai reservoir wabah dan  sering terlibat dalam “pandemic kedua” Eropa dan Amerika Utara pada pertengahan abad ke 14,” ungkap Ibnu Maryanto, saat menjadi narasumber pada Webinar Strategi Pengendalian Tikus dan Faktor Risiko Leptospirosis yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan pada Rabu (12/8).

Dalam paparannya, Peneliti Mamalia pada Pusat Penelitian Biologi tersebut menjelaskan kajian penyakit dari mamalia memiliki diversitas virus per-spesies dan per-sampling berbeda. Urutan pertama diduduki chiroptera (kalelawar), rhodentia (hewan pengerat) dan non-human primates. “Saat ini tercatat 773 jenis mamalia di Indonesia, 188 jenis diantaranya adalah tikus dan merupakan kelompok kedua mamalia terbesar setelah kalelawar,” ujar Ibnu.

Lebih lanjut Ibnu mengungkapkan jenis tikus terbanyak Indonesia terdapat di Papua, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan dan beberapa pulau lain. “Kami telah mengunjungi 40 pulau dan menganalisis 100 pulau sebagai kajian kelompok zoogeografi tikus di Indonesia. Kelompok tersebut yaitu kelompok Papua, Sulawesi, Sumatera dan Bali,” tambah Ibnu.

Dominasi dan komensal tikus di Indonesia bagian barat memiliki variasi yang berbeda-beda. Tikus yang hidup dalam hutan primer memiliki diversitas tinggi karena tidak terganggu. Jenis tikusnya yaitu Ratus exulans, R. ratus, R. argentiventer, Maxomys rajah, M. whitehead, M. surifer, Leopoldamys sabanus, Niviventer cremoriventer, Mus musculus, M. caroli, dan Sundamys mueleri. Sedangkan tikus hutan sekunder didominasi Ratus exulans, M. whitehead, dan M.surifer.

Apabila terjadi alih fungsi lahan menjadi persawahan akan berbeda jenis tikusnya, yaitu sawah tadah hujan didominasi Ratus exulans dan M. white head, serta sawah irigasi didominasi  R. argentiventer dan M. caroli. Diversitas akan semakin berkurang jika lahan berubah menjadi tegalan/belukar yang didominasi Ratus exulans dan R. tiomanicus.  Lain halnya untuk perumahan, R. ratus, R. norvegicus dan M. musculus yang dominan. “Semakin tinggi alih fungsi lahan jenis tikus semakin berkurang dan hal ini yang akan menjadi potensial komensal dan agen penyakit zoonosis,” ungkap Ibnu. 

Untuk tikus komensal sebagai agen leptospirosis di Indonesia dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kelompok komensal global, komensal pulau besar dan komensal pulau kecil.  Untuk kelompok global asal muasal penyebaran tikus di dunia terbagi menjadi dua kelompok, yaitu R. ratus di Eropa dan R. tanuzemi di Asia Tenggara dan Asia.

Untuk potensial tikus komensal pulau besar terdapat di Sulawesi, Papua dan Jawa, yaitu jenis R. argentiventer dan M. musculis. Kelompok tikus komensal di pulau kecil yaitu Enggano, Maluku dan Ternate yaitu jenis R. tauzemi dan M. musculus. Sedangkan komensal non tikus adalah cerurut rumah (Suncus murinus dan S. montana). Cerurut bukan tikus, hewan ini pemakan serangga dan biasanya pembawa virus hanta.

Ibnu mengakui upaya untuk menekan penyebaran leptospirosis  di Indonesia adalah tantangan yang perlu dihadapi bersama. “Diperlukan kerjasama untuk membangun data zoonosis, karena banyak data terpisah di seluruh lembaga. Selain itu, adanya koordinasi, jaringan data sangat dibutuhkan untuk mendukung usaha tersebut, termasuk  memperkuat kapasitas untuk menganalisis data,” pungkas Ibnu. (sa ed sl)

Info Kegiatan

Laporan Tahunan

LAPORAN TAHUNAN PUSLIT BIOLOGI

1. TAHUN 2016

2. TAHUN 2017

3. TAHUN 2018

Galeri video P2Biologi

Alamat

Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Cibinong Science Center, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46
Cibinong 16911, Bogor-Indonesia
Phone: +62(0)1-87907604/87907636 , Fax : +62(0)21-87907612 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Info Kegiatan

Get Socials

© 2009-2015 by GPIUTMD

Scroll to top