• 12.jpg
  • 13.jpg
  • 14.jpg
  • 15.jpg
  • 16.jpg
  • 17.jpg
  • 18.jpg

Bidang Botani

Herbarium Bogoriense(BO)

Botany

Read more

Bidang Zoologi

Bidang Mikrobiologi

Informasi Kehati

Produk Puslit Biologi

 

WhatsApp Image 2021 08 30 at 10.31.35

 

Cibinong, Humas LIPI. Tumbuhan yang sering kita lihat umumnya memiliki bunga dan buah, ada yang berupa pohon dan ada yang berupa herba. Kelompok ini disebut tumbuhan tinggi. Paku-pakuan adalah kelompok tumbuhan yang dianggap lebih primitif daripada kelompok tumbuhan tinggi, karena alat reproduksinya tidak berupa bunga dan buah, melainkan masih berupa spora. Namun jika dilihat dari kekerabatannya, paku-pakuan tidak terlalu primitif juga. Posisinya seperti bersepupu dengan tumbuhan tinggi, hanya satu tingkat lebih tua. Selain itu, struktur tubuhnya sudah lengkap yakni memiliki batang, akar dan daun, berbeda dengan lumut dan alga yang strukturnya belum lengkap.

Peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wita Wardani S.Si., M.Sc. mengatakan bahwa ketertarikannya pada taksonomi paku-pakuan diantaranya karena jenisnya yang sangat banyak, sedangkan kemampuan mengidentifikasi kelompok tumbuhan tergolong langka. Taksonomi merupakan ilmu yang merangkum segala informasi tentang suatu kelompok tumbuhan, utamanya untuk keperluan identifikasi. “Daya Tarik pemanfaatan tumbuhan paku lebih banyak ke tanaman hias, contohnya suplir. Suplir bermacam-macam sekali bentuk daun, dan itu hanya satu kelompok yg disebut Adiantaceae tapi sekarang menjadi Pteridaceae walaupun masih dalam satu marga Adiantum”, ungkapnya dalam acara Podme: Me vs Science, pada Rabu (25/8).

“Masih banyak sekali kelompok jenis paku yang lain”. Daya tarik paku-pakuan banyaknya sebagai tanaman hias, ada juga yang dimakan sebagai sayur. Pada tempat-tempat terbuka, paku-pakuan termasuk kelompok yang muncul terlebih dahulu, atau disebut jenis pionir, seperti di tempat-tempat yang terdegradasi. Hal ini karena model reproduksinya dengan spora yang mudah terbawa angin, “asal tempatnya enak, jadi deh, sporanya tumbuh. Fungsinya di ekosistem, di lingkungan, peran/kontribusinya besar juga,” imbuh Wita.

Wita menjelaskan tentang pertanyaan paku-pakuan dalam ekosistem sebagai apa? Menurutnya jenis paku-pakuan berperan sebagai pengisi lantai bawah hutan (understorey). Keanekaragaman paling banyak berada antara keteduhan dengan cahaya matahari. Jika terlalu teduh seperti di kebun karet biasanya paku-pakuan yang memenuhi lantai hutan jenisnya itu-itu saja. Sama seperti kelompok tumbuhan yang lain, ada jenis yang sekunder, ada pula yang pionir. Begitu ada bukaan misalnya karena pohon yang tumbang di tengah hutan yang rapat, timbul gap yang memungkinkan penetrasi cahaya matahari, maka biasanya jenis paku tertentu segera mengisi ruang yang terbuka itu.

Indonesia memiliki 1600an jenis paku-pakuan yang sudah dideksripsi atau sudah ada namanya, dari sekitar 14.000 jenis paku-pakuan di dunia. Sama seperti kelompok tumbuhan yang lain, disinyalir masih banyak jenis yang belum diketahui dan diberi nama, terutama jenis-jenis yang berasal dari Papua. Paku paling banyak keanekaragamannya di dataran tinggi sedangkan di dataran rendah seringkali jenisnya itu-itu saja. “Saya pernah ke Pulau Enggano mulai dari bukit sampai tepi pantai, ternyata jenis pakunya sama dengan jenis yang bisa ditemukan di Jawa juga, karena (tergolong) dataran rendah. Tetapi di dataran tinggi lebih bermacam-macam, baik di dataran tinggi Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan lain-lain. Tetapi yang paling tidak tereksplore adalah sebelah timur Indonesia, sama seperti tumbuhan yang lain,” jelas Wita.

Lebih jauh Wita menerangkan bahwa model reproduksi paku-pakuan menggunakan spora, yang berkecambah di tempat yang lembab membentuk gamet jantan (anteridium) dan gamet betina (arkegonium). Fase ini disebut fase generatif yang short lived (durasi sebentar). Ada dua model reproduksi, yaitu heterosporus dan homosporus. Pada jenis-jenis paku heterosporus seperti paku air Azolla yang sering ditemukan di sawah, sporanya berkecambah menjadi gametofit jantan dan gametofit betina yang terpisah. Karena berada di dalam air dan berdekatan, maka gamet jantan dapat bergerak sendiri menuju gamet betina.

Pada jenis homosporous, jika spora jatuh di tempat lembap, maka kecambah akan muncul berupa thalus, seperti lapisan-lapisan yang berukuran kecil, berbentuk hati dengan dua kuping (lobus), gamet jantan dan betina berada berada pada posisi yang berbeda. “Yang betina punya semacam atraktan yang mengarahkan jantan bergerak ke arah dia. “Kalau sudah bersatu, terjadi pembuahan, maka akan terbentuk anakan-anakan (juvenil) yang kemudian menjadi besar,” rinci Wita.

Wujud juvenil dapat berbeda dengan tumbuhan dewasa, sedangkan pada tumbuhan dewasa, individu yang berdaun fertil (yang memiliki spora) dengan yang berdaun steril (yang tidak berspora) juga dapat berbeda bentuknya. “Inilah yang sering bikin orang menganggap sesuatu itu jenis baru, padahal sebetulnya masih jenis yang sama. Itu tantangan dalam mengoleksi dan mengidentifikasi paku” jelasnya.

Wita mengungkapkan bahwa manfaat paku-pakuan bagi ekosistem dan manusia diantaranya yaitu daun muda dari banyak jenis paku yang dapat dikonsumsi sebagai bahan sayur, juga sebagai tanaman hias karena model daunnya bermacam-macam, kotak spora pun berbeda-beda cantik dan menarik. Dari segi ekosistem bila diperhatikan di lereng-lereng kebun teh misalnya, ada pakis-pakis yang mempunyai batang seperti pohon yang disebut paku tiang. Kelompok ini dapat mencegah erosi dengan adanya akar adventif yang menutupi bagian batang bawah yang berfungsi seperti pasak, menopang batang yang meninggi. “Akar (adventif) itu yang sering (digunakan) menjadi media anggrek, dibentuk menjadi papan,” tuturnya.

Selain itu ada pula jenis merambat yang disebut paku ata (Lygodium) yang sebetulnya tergolong pengganggu karena dapat tumbuh cepat menutupi permukaan dan menghalangi cahaya bagi tumbuhan yang lain. “Tapi di Bali dipake buat kerajinan, karena panjang seperti tali jadi bisa untuk tas, anyaman, bahkan sampai habis dan harus didatangkan dari Jawa”. Beberapa jenis paku yang epifit, yang nemplok di dahan-dahan pohon, bisa juga dipake sebagai indikator pencemaran (udara) dengan cara diambil, diekstraksi dan diukur kandungan logam (berat)nya,” pungkas Wita (shf ed sl/ww )

Info Kegiatan

Laporan Tahunan

LAPORAN TAHUNAN PUSLIT BIOLOGI

1. TAHUN 2016

2. TAHUN 2017

3. TAHUN 2018

Galeri video P2Biologi

Alamat

Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Cibinong Science Center, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46
Cibinong 16911, Bogor-Indonesia
Phone: +62(0)1-87907604/87907636 , Fax : +62(0)21-87907612 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Info Kegiatan

Get Socials

© 2009-2015 by GPIUTMD

Scroll to top