• 12.jpg
  • 13.jpg
  • 14.jpg
  • 15.jpg
  • 16.jpg
  • 17.jpg
  • 18.jpg

Bidang Botani

Herbarium Bogoriense(BO)

Botany

Read more

Bidang Zoologi

Bidang Mikrobiologi

Informasi Kehati

Produk Puslit Biologi

 

 

WhatsApp Image 2022 05 23 at 08.55.11

Cibinong, Humas BRIN. Penelitian keanekaragaman hayati di Indonesia sudah dimulai sejak 200-300 tahun yang lalu. Bukti hasil penelitian tersimpan rapi di museum nasional keanekaragaman hayati yang dimiliki Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yakni Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Herbarium Bogoriense (BO) dan Indonesia Culture Collection (InaCC) dan Kebun Raya untuk living organism di Indonesia dan dari Indonesia.

Dalam Podcast BRIN Episode ke-18 yang mengangkat tema besar Biodiversitas Indonesia ini, menghadirkan Dr. Drh. Anang Setiawan Achmadi, peneliti hayati sekaligus Kepala Pusat Riset (PR) Ekologi dan Etnobiologi BRIN, yang dipandu Dr. Ayu Savitri Nurinsiyah, pada Minggu (22/5). Podcast ini terselenggara atas kerjasama Deputi Fasilitas Riset dan Inovasi BRIN dan Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN, dan untuk memperingati hari Biodiversitas Internasional yang diperingati setiap tahunnya pada 22 Mei, serta mendukung kegiatan Presidensi G20.

Anang, yang juga penemu jenis baru tikus, salah satunya adalah tikus ompong (Paucidentomys vermidax) dari Sulawesi, berbagi pengalaman mengenai perencanaan dan penelitian bidang keanekaragaman hayati dan masa depan peneliti keanekaragaman hayati Indonesia.

“Sudah 5 bulan berjalan saya dan teman-teman menyusun perencanaan dan program. Goal jangka pendek, menengah dan jangka panjang sedang berproses. Saya dan tim perencana sedang menyusun bagaimana Pusris Ekologi dan Etnobiologi menjadi PR acuan, karena tusinya banyak terkait dengan kebijakan nasional, rekomendasi kearah keanekaragaman hayati. Kita fokus penelitian terkait dengan ekologi, kehutanan, ekosistem, climate change dan mencari solusi berbagai masalah yang ada di skala nasional,” jelas Anang.

Dirinya menerangkan bahwa penelitian keanekaragaman hayati sudah lama dilakukan dan kawan-kawan BRIN sudah tahu cerita mengenai Alfred Russel Wallace. “Beliau sudah melakukan penelitian sejak tahun 1858 di Malay Archipelago. Mulai dari Sumatera, Kalimantan, dan sampai ke Ternate. Kemudian zaman pemerintah Belanda datang. Hal ini dibuktikan dengan koleksi yang kita miliki paling tua ditemukan tahun 1890an.”

“Ini menjadi warisan dengan nilai tidak terbantahkan. Warisan para pendahulu dari luar dan dalam negeri, yang nilainya tidak tergantikan oleh apapun, yang harus dijaga dan dilestarikan. Sebagai peneliti tidak hanya memikirkan hari ini saja, tetapi juga masa depan. Ilmu hayati tidak berhenti tetapi terus berkembang. Dari koleksi yang kita milikipun boleh dikatakan informasi yang terungkap kurang dari 10 persen masih 90 persen yang harus diungkap sebelum tidak bisa terungkap karena aktivitas manusia,” tuturAnang

“Kita sama-sama harus menjaga, peneliti di ORHL dengan 8 pusris, fokus memaksimalkan keanekaragaman hayati untuk kita transfer ke dalam sesuatu yang nilai kebermanfaatannya meningkat, dan sampai ke masyarakat. Strategi yang disusun tidak hanya di tingkat pusat riset tetapi sampai ke masyarakat baik dari sisi ilmiah maupun ekonomi. Ini tantangan bagi peneliti untuk saat ini dan masa yang akan datang,” ujarnya.

Anang mengatakan, “Saat ini SDM periset masih sangat kurang. Misalnya saja taksonom, untuk negara dengan kekayaan hayati yang melimpah, terkaya ke 2 di dunia, Indonesia hanya memiliki taksonom tidak lebih dari 200 orang. Ini menjadi pekerjaan rumah semua bagaimana keberlanjutannya.”

“Penelitian taksonomi merupakan basic science yang menjadi fondasi ilmu terapan berikutnya, menangkap isu dan hasil penelitian untuk dikembangkan lebih bermanfaat, atau kearah ilmu terapan yang harus disinergikan satu sama lain. Arahan dari Kepala OR HL, SDM merupakan salah satu fokus utama untuk kita susun paling tidak untuk 5 tahun ke depan. Agar proses estafet tidak mengalami kekosongan,” ungkapnya

Tantangan dari sisi taksonom yang paling utama adalah merubah citra, agar generasi muda memahami bahwa menjadi taksonomis tidak semudah yang dilihat. Juga harus mengerti ilmu taksonomi merupakan fondasi ilmu terapan. Jika masalah di dasarnya tidak terselesaikan akan menjadi rentetan yang menjadi masalah ke ilmu selanjutnya.

Semua ilmu bermanfaat dan punya masa depan. Semua ilmu menantang. Semakin dalam kita tahu semakin menantang. Untuk taksonomis semakin kita ungkap semakin terbuka. Tidak hanya dari Indonesia tetapi dunia.

Bukan rahasia Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati nomor 2 dan menjadi pertama jika digabung dengan keanekaragaman hayati laut. “Ada beberapa kendala dalam koordinasi, kolaborasi dan proses mendapatkan data. Hal ini menjadi dasar sehingga tahun ini BRIN melalui pusris yag ada di OR HL mendapatkan amanah agar membuat skema pengelolaan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan. Kemudian saya diminta menjadi koordinator dan bersama teman-teman yang punya ilmu, semangat dan visi menyusun grand design dalam suatu proposal sesuai dengan arahan kepala BRIN,” ucap Anang.

Dirinya menambahkan, “Kelemahan selama ini data yang ada tersebar. Untuk itu dikonsepkan membentuk 25 stasiun riset di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Masing-masing stasiun riset bukan hanya peneliti BRIN tetapi berkolaborasi dengan stakeholder yang sudah melakukan penelitian keanekaragaman hayati, bioprospeksi dan pemanfaatan bioprospeksi.”

Anang mengatakan, “Selama 5 tahun kita bantu program, dan anggaran bersama-sama mencarikan. Setelahnya, seluruh stakeholder yang menjadi pengola meneruskan kegiatan penelitian tidak hanya di dasar tetapi kombinasi. Kompleks program dari hulu ke hilir, harapannya menarik pihak yang ingin berinvestasi. Bisa universitas atau swasta untuk memanfatkan sumber daya lokal yang bisa dimanfaatkan untuk di tingkatkan ke dalam industri.”

“Alhamdulillah koordinasi berjalan sangat baik dengan seluruh stakeholder di pusat, daerah dan 25 stasiun riset. Kami punya tujuan baik, mudah-mudahan ada pihak yang melihat podcast ini mungkin tertarik ingin bersama-sama membangun Indonesia dengan konsep yang kita susun,” tuturnya

Di akhir podcast, Anang menyampaikan terkait grand design yang dibangun. “Secara terbuka kami sampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia konsep yang sedang dikembangkan ini nantinya ke arah pengembangan masyarakat, harapannya mayarakat lokal yang berdekatan dengan stasiun riset dapat berkontribusi tidak hanya dalam penelitian tapi juga dalam pengembangan kawasan. Mari sama-sama kita jaga kelestarian, kembangkan dan gali potensi. Manfaatkan secara lestari dan berkelanjutan yang kita punya, mungkin saat ini belum kelihatan manfaatnya, tetapi tidak tahu di masa depan. Tuhan menciptakan pasti bermanfaat bagi manusia dan bisa kita maksimalkan,” pungkasnya. (ew/ ed.sl)

Info Kegiatan

Laporan Tahunan

LAPORAN TAHUNAN PUSLIT BIOLOGI

1. TAHUN 2016

2. TAHUN 2017

3. TAHUN 2018

Galeri video P2Biologi

Alamat

Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Cibinong Science Center, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46
Cibinong 16911, Bogor-Indonesia
Phone: +62(0)1-87907604/87907636 , Fax : +62(0)21-87907612 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Info Kegiatan

Get Socials

© 2009-2015 by GPIUTMD

Scroll to top