• 01.jpg
  • 11.jpg
  • 21.jpeg
  • 31.jpg
  • 41.jpg
  • 51.jpg
  • 61.jpg
  • 71.jpg
  • 81.jpg
  • 91.jpg
  • 111.jpeg
  • 912.jpg

Bidang Botani

Herbarium Bogoriense(BO)

Botany

Read more

Bidang Zoologi

Bidang Mikrobiologi

Informasi Kehati

Produk Puslit Biologi

 

 

LIHAT GALERI FOTO    |   Foto - M. Aried

LIPI telah dipercaya sebagai otoritas keilmuan turut berperan memberikan rekomendasi kepada otoritas pengelola dalam implementasi konvensi CITES. Rekomendasi tersebut meliputi penetapan daftar jenis, pembatasan kuota perdagangan, pembatasan pemberian izin dan lain sebagainya.

Sebagaimana dipersyaratkan dalam peraturan pemerintah, rekomendasi-rekomendasi tersebut haruslah berdasarkan data dan informasi ilmiah juga sarana dan prasarana yang dimiliki oleh penangkar-penangkar di Indonesia. Selain itu, perlu juga penguatan data informasi di habitatnya untuk memastikan bahwa pemanfaatan TSL menjunjung pemanfaatan yang berkelanjutan.

Berkaitan dengan hal-hal tersebut IUCN bekerjasama dengan CITES, KLHK, dan LIPI akan menyampaikan panduan inspeksi penangkaran dan panduan pembuatan dokumen Non- Detriment Finding (NDF) untuk ular. Panduan tersebut akan disampaikan kepada para pihak- pihak di kawasan ASEAN dan Eropa yang dapat digunakan dalam inspeksi penangkaran dan pembuatan NDF ular. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu-Kamis (28 -29/11) di Salak Tower Hotel, Bogor.

Pihak-pihak yang penting untuk mengetahui dan dapat menggunakan panduan tersebut adalah pihak otoritas pengelola (KLHK), otoritas ilmiah (LIPI), dan fungsional PEH yang instansinya terlibat dalam pemberian izin dan pengawasan peredaran TSL. Peningkatan kapasitas di berbagai pihak dapat memperkuat kerjasama dalam mendukung TSL yang diperdagangankan agar tetap mengacu pada pemanfaatan yang berkelanjutan sehingga dapat menentukan arah perdagangan TSL secara tepat.

 

Dr. Hari Sutrisno selaku Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI yang mewakili Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI dalam sambutannya, mengatakan bahwa regulasi perdagangan internasional telah diatur dalam konvensi CITES, dimana pada dasarnya aset-aset TSL yang diperdagangan harus tetap lestari dan populasinya tidak menjadi terancam punah akibat eksploitasi berlebihan, jelasnya.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah jenis dan volume ekspor TSL yang tinggi di dunia tidak selalu mulus dalam melakukan transaksi internasional. Berbagai permasalahan dapat muncul akibat tingginya volume perdagangan untuk satu atau lebih jenis TSl baik yang bersumber dari pengambilan langsung dari alam maupun dari hasil penangkaran, ujarnya.

Beliau menambahkan, otoritas ilmiah dari negara-negara tujuan eksport, terutama anggota Uni Eropa, dan lembaga-lembaga konservasi internasional melalui sektertariat CITES, sering melemparkan pertanyaan tentang “keabsahan” dari TSL yang dieksport, baik dari sisi pemanenan lestari maupun penangkaran, ungkapnya.

Menurutnya, data dan informasi dari perusahaan tersebut harus sesuai dengan kenyataan yang ada dilapangan dan compliance dengan peraturan nasional dan CITES. Namun demikian belum semua perusahaan paham dengan peraturan nasional dan regulasi CITES dalam perdagangan TSL internasional, pungkasnya.

Dengan diselenggarakannya acara workshop ini, diharapkan kapasitas perusahaan TSL, otoritas ilmiah dan otoritas manajemen dapat meningkat sehingga status perdagangan TSL Indonesia di kancah global dapat selalu “compliance” dengan CITES, ungkap beliau sekaligus membuka acara.

   

Adapun acara selanjutnya pemaparan “Introduction of CITES” yang disampaikan oleh Wita Wardani, M.Sc. (Peneliti Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi LIPI), dilanjutkan dengan pemaparan “CITES Source Codes: Introduction and application” oleh Dr. Daniel Natusch (IUCN SSC Phyton and Boa Specialist Group). Acara workshop ini diikuti oleh peserta dari beberapa perusahan TSL, UPT BKSDA dan beberapa peneliti dari LIPI sebagai otoritas ilmiah.

 

Adapun, lingkup workshop ini antara lain; 1). Menginformasikan penggunaan Source Code yang benar pada perdagangan TSL; 2). Mengetahui permasalahan dan cara mengatasi permasalahan umum di penangkaran jenis TSL yang diperdagangkan; 3). Mengetahui dan dapat mengaplikasikan penggunaan panduan inspeksi penangkaran yang dikeluarkan oleh IUCN; 4). Mengetahui tentang perdagangan ular dan konservasinya; 5) Mengetahui isu-isu dan permasalahn perdagangan TSL di beberapa negara dan cara menanggulanginya; 6). Mengetahui perbedaan source code W dan C pada ular; 7). Mengetahui dan dapat membuat Non Detriment Finding untuk ular sesuai dengan panduang yang dikeluarkan oleh IUCN; 8). Memperkuat kompetensi otoritas ilmiah dan manajemen di bidang perdagangan TSL; dan 9). Memperkuat dan mempererat hubungan kerjasama antar LIPI, KLHK, IUCN, dan CITES Secretariat.

Harapan dari hasil workshop ini peserta dapat memahami dan mampu membedakan source code yang digunakan dalam perdagangan TSL sehingga persoalan kesalahan pengkodean dapat dihindari; dapat mengaplikasikan panduan inspeksi penangkaran sehingga dapat mengevaluasi perdagangan TSL hasil penangkaran; aspek- aspek esensial dalam melakukan inspeksi fasilitas penangkaran; memahami perdagangan ular dan juga upaya konservasinya; dapat membuat dokumen Non Detriment Finding sehingga dapat memperkuat justifikasi pemanfaatan TSL. Dengan demikian, Indonesia dapat mengambilan kebijakan pengelolaan peredaran TSL yang tepat sesuai potensi sumber daya alam.

Penulis - Panitia

Pengunggah - Pramono

Info Kegiatan

QR code

qr code

Galeri video P2Biologi

Alamat

Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Cibinong Science Center, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46
Cibinong 16911, Bogor-Indonesia
Phone: +62(0)1-87907604/87907636 , Fax : +62(0)21-87907612 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Info Kegiatan

Get Socials

© 2009-2015 by GPIUTMD

Scroll to top