• 0000.jpg
  • 11.jpg
  • 12.jpg
  • 13.jpg
  • 14.jpg
  • 15.jpg
  • 16.jpg
  • 17.jpg
  • 18.jpg

Bidang Botani

Herbarium Bogoriense(BO)

Botany

Read more

Bidang Zoologi

Bidang Mikrobiologi

Informasi Kehati

Produk Puslit Biologi

 



LIHAT GALERI FOTO    |   Foto - M. Aried

LIPI sebagai lembaga penelitian dan otoritas ilmiah memiliki kewajiban untuk mendiseminasikan hasil-hasil kajian terkait TSL kepada publik, baik kalangan akademisi, masyarakat urnum maupun pelaku industri TSL.

Kajian-kajian terhadap tumbuhan dan satwa liar dilakukan berbagai pihak yang sedikit banyak dapat bermanfaat dalam mengambil keputusan untuk pengelolaan di tingkat nasional. Hasil- hasil kajian tersebut perlu dihadirkan dalam suatu forum agar para pemangku kepentingan dapat saling berbagi informasi terbarukan dan membantu upaya peningkatan pengelolaan. Oleh karena itu untuk  menyatukan visi dan misi dalam pemanfaatan TSL yang bemilai lestari serta memperkuat jejaring pemantauan TSL, LIPI melalui Pusat Penelitian Biologi menyelenggarakan seminar “Riset Sebagai Fondasi Konservasi dan Pemanfaatan TSL Lestari” di Salak Tower Hotel, Bogor. pada Selasa (27/11).
 
Adapun, tujuan penyelenggaraan seminar ini dimaksudkan untuk menjadi sarana presentasi hasil-hasil penelitian yang berkenaan dengan pengelolaan TSL, yang dilakukan oleh berbagai pihak pemangku kepentingan, baik dari instansi pemerintah, mahasiswa maupun organisasi non-pemerintah. Seminar ini dihadiri oleh peserta pemakalah dari berbagai satuan kerja di LIPI, rekan-rekan mahasiswa, komunitas/LSM, swasta, serta dari satuan kerja instansi pemerintah, sebagian yang lain merupakan peserta non-pemakalah dari berbagai pihak pemangku kepentingan dalam peredaran TSL, termasuk diantaranya masyarakat pemanfaat dan pengusaha TSL.

 

Dr. Ir. Witjaksono, M.Sc. selaku Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, mewakili Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati, LIPI, menyampaikan dalam sambutannya potensi ekonomi tumbuhan dan satwa liar sangat besar dan saat ini sudah tercatat pemasukan devisa negara dari transaksi TSL internasional sekitar Rp 8 triliun di tahun 2018. Nilai peredaran TSL didalam negeri disinyalir juga cukup tinggi dan melibatkan berbagai sektor industri masyarakat seperti yang terjadi pada pemanfaatan burung liar untuk kesenangan (hobi), jelasnya.

Witjaksono menambahkan, kajian ilmiah terkait dengan konservasi dan pemanfaatan TSL ini tidak hanya menjadi keharusan berdasarkan peraturan nasional, namun juga menjadi salah satu “compliance” yang diatur oleh CITES sehingga  harus tersedia jika suatu negara ingin berjualan TSL secara internasional, ujarnya.

Sementara itu, Witjaksono menjelaskan,   bahwa LIPI mengemban amanat sebagai otoritas ilmiah di bidang kekayaan hayati memiliki tanggung jawab menyediakan hasil kajian ilmiah tersebut. LIPI telah melakukan berbagai penelitian ilmiah terkait dengan jenis-jenis TSL yang banyak dimanfaatkan baik untuk perdagangan internasional maupun domestik. Hasil penelitian tersebut telah digunakan sebagai landasan rekomendasi ilmiah yang dipakai oleh otoritas manjemen, yaitu KLHK dalam pengelolaan TSL, ungkapnya.

Dengan diselenggarakan acara seminar ini,  LIPI mengharapkan dan mendorong berbagai pihak untuk semakin banyak melakukan penelitian dan kajian ilmiah TSL yang meliputi berbagai bidang penelitian baik biologi maupun sosial sebagai landasan pemanfaatan TSL yang lestari, ungkapnya sekaligus membuka acara.

   

Kegiatan seminar ini menghadirkan  ahli – ahli sebagai pembicara kunci (keynote lecture); Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo (Peneliti Senior Botani, Puslit Biologi LIPI) memaparkan  “Aspek-aspek ilmiah sebagai dasar penetapan angka kuota gaharu di Indonesia”, Bapak Maraden Purba (Asosiasi Pengusaha Kura-kura dan Labi-Labi Konsuxnsi Indonesia (APEKLI)) memaparkan “Peranan Asosiasi dalam mendorong Penangkaran dan Perbanyakan Buatan dalam Pemanfaatan TSL”. dan Dr. Daniel Natusch (IUCN SSC Phyton and Boa Specialist Group) memaparkan “Indirect methods on measuring the population of harvested snakes in Indonesia”.

Prof. Tukirin dalam paparannya mengatakan, sebagai contoh dalam memberikan rekomendasi kuota tanaman gaharu, peneliti memberikan rekomendasi atas pemanfaatan Gaharu meliputi inventarisasi dan pemantauan populasi, penyusunan kuota panen sebagai bahan rekomendasi, pengecekan potensi lapang ke Hak Pengusahaan Hutan (HPH) tersertifikasi yang memanen jenis Appendix (II/III) sebagai bahan penyusunan kuota. Setelah itu, peninjauan ke beberapa breeder (pemulia/penagkar) sebagai bahan rekomendasi keberhasilan budidaya kepada MA (Appendix I), ungkapnya.

 

Pemberian cinderamata kepada keynote lecture oleh Kapus Puslit Biologi LIPI dan Dr.  Amir Hamidy (Peneliti Bidang Zoologi, Puslit Biologi LIPI).
 
 

Suasana wawancara doorstop dengan RRI Bogor

Disela-sela acara Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo (Peneliti Senior, Bidang Botani Puslit Biologi LIPI) sebagai salah satu pembicara kunci, kepada RRI Bogor, Selasa (27/11/2018) dalam salah satu kutipan wawancaranya menjelaskan penting untuk menambah nilai tambah dari hasil sumber daya alam Gaharu dan Cendana yang mempunyai nilai jual tinggi dipasaran. Pohon Gaharu bisa menjadi bahan baku untuk mebeler wangi dan aroma terapi bagi masyarakat. “Petani harus mampu mengolah bahan baku menjadi produk barang setengah jadi bahkan bahan jadi sehingga mendapatkan penghasilan lebih untuk kesejahteraan rakyat,” ujarnya, Menurutnya saat ini terpenting dari Pemerintah untuk perlindungan lingkungan hidup bagi konservasi alam tempat pohon Gaharu dan Cendana itu berada. Sumber berita ini dapat diunduh disini. RRI Bogor juga sempat mewawancarai Dr. Ir. Witjaksono, M.Sc. dan Dr. Amir Hamidy.

 

Adapun acara selanjutnya pada sesi paralel, program seminar yang terbagi menjadi tiga tema yakni: 1) Populasi, Ekologi dan Sistematika TSL; 2) Konservasi dan pemanfaatan eksitu TSL; dan 3) Peredaran dan perdagangan TSL. Makalah yang disampaikan dalam seminar ini, baik secara oral maupun poster, ditelaah oleh komite saintifik yang terdiri dari para ahli lintas instansi. Seminar ini diikuti oleh 45 pemateri oral dan 42 pemateri poster, selebihnya adalah peserta non-pemakalah.

Dalam kerangka implementasi konvensi dan kelestarian TSL, tidak ada pihak yang bisa bekerja sendiri mengingat kondisi Indonesia yang kompleks, bukan hanya karena wilayahnya yang sangat luas tetapi juga banyak dan beragamannya jenis yang dimanfaatkan. Oleh karena itu, LIPI merasa perlu untuk mendorong semua pihak agar dapat melakukan pemantauan populasi TSL dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, mendorong penelitian penangkaran dan perbanyakan buatan, memantau perdagangan dan peredaran TSL sehingga dapat mendukung pemanfaatan yang lestari.

Link Berita terkait:

  • lipi.go.id/siaranpress/LIPI-Kaji-Pemanfaatan-Tumbuhan-dan-Satwa-Liar-TSL/21405
  • http://lipi.go.id/berita/Inilah-Proses-Penentuan-Kuota-Perdagangan-Gaharu/21407
  • http://m.rri.co.id/post/berita/604088/lingkungan_hidup/lipi_upayakan_perlindungan_pohon_gaharu_untuk_sejahterakan_petani.html

sumber siaran pers panitia cites

Penulis - Sri Handayani

Pengunggah - Pramono
















 


Info Kegiatan

Laporan Tahunan

LAPORAN TAHUNAN PUSLIT BIOLOGI

1. TAHUN 2016

2. TAHUN 2017

3. TAHUN 2018

Galeri video P2Biologi

Alamat

Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Cibinong Science Center, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46
Cibinong 16911, Bogor-Indonesia
Phone: +62(0)1-87907604/87907636 , Fax : +62(0)21-87907612 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Info Kegiatan

Get Socials

© 2009-2015 by GPIUTMD

Scroll to top