• 12.jpg
  • 13.jpg
  • 14.jpg
  • 15.jpg
  • 16.jpg
  • 17.jpg
  • 18.jpg

Bidang Botani

Herbarium Bogoriense(BO)

Botany

Read more

Bidang Zoologi

Bidang Mikrobiologi

Informasi Kehati

Produk Puslit Biologi

 

WhatsApp Image 2020 05 14 at 19.28.45 1

Cibinong, Humas LIPI. Gayam (Inocarpus fagifer (Parkinson) Fosberg) adalah tanaman multimanfaat yang telah menjadi tumbuhan langka. Gayam adalah pohon yang berasal dari kawasan Malesiana bagian timur, terutama dari Indonesia. Walaupun masyarakat telah mengetahui kegunaannya, namun pemanfaatan tanaman ini belum optimal dilakukan. Padahal pembudidayaan tanaman cukup mudah dan memiliki nilai ekonomis.

Berbagai bagian dari pohon gayam dapat dimanfaatkan. Mulai dari biji hingga akarnya. Daging biji gayam berpotensi sebagai sumber pangan karena mengandung karbohidrat, sehingga dapat diolah sebagai keripik dan tepung. “Dagingnya bisa menjadi alternatif sumber pangan pada kondisi panceklik”, ujar Albertus Husein Wawo Peneliti Botani Bidang Agroforestri Pusat Penelitian Biologi. Sebelum dikonsumsi, daging biji Gayam wajib di masak terlebih dahulu (rebus dan sangrai). Sedangkan kulit biji (cangkang) dapat diolah menjadi  kompos  karena  mudah  hancur.

Batang Gayam yang telah tua dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan diolah sebagai produk mebel, seperti tempat tidur, lemari, dan bingkai  foto. Selain itu pucuk daun gayam dapat diolah menjadi sayuran. Sedangkan daun gayam yang sudah tua dapat menjadi pembungkus tempe dan pakan ternak. Daun gayam juga dapat diolah menjadi pestisida nabati untuk membunuh serangga pada tanaman.

Karakteristik sistem perakaran Gayam yang kekar, dalam, dan padat menjadikan pohon gayam tak mudah rubuh dan dapat  menjadi penahan banjir, erosi atau taulud sungai. Akar gayam dapat menembus tanah, berfungsi sebagai biopori sehingga air cepat meresap. Tak heran di beberapa daerah, gayam sering menjadi tanaman pelestari mata air. “Penduduk Kampung Telangu di Yogyakarta telah menanam gayam di bantaran Sungai Semak untuk melindungi kebun penduduk dari ancaman erosi, akar gayam mampu meredam aliran air sungai, sehingga gayam disebut sebagai benteng kali (talud sungai)”, ungkap Albert.

Gayam dapat tumbuh di ketinggian 500 mdpl. Budidaya tanaman gayam dapat dilakukan dengan metode generatif maupun vegetatif. Namun, yang lazim dilakukan dengan metode generatif, yaitu menggunakan benih (buah) karena keberhasilan tumbuh menjadi semai relatif tinggi. “Sebaiknya benih diambil dari pohon dewasa yang telah berumur antara 20–30 tahun, karena keberhasilan tumbuh menjadi semai relatif tinggi”, jelas Albert. Untuk perbanyakan dengan metode vegetatif juga dapat dilakukan dengan menggunakan setek batang, namun tingkat keberhasilannya masih rendah.

Dirinya menjelaskan penanaman gayam merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi lahan pertanian yang semakin sempit, yaitu sebagai model pertanian akibat perubahan iklim. Gayam dengan perakaran dalam dan padat lebih tahan kering dan tetap berproduksi meskipun dalam musim kemarau.  Pola pertanian wanatani (agroforestri) yaitu kombinasi penanaman tanaman semusim bersama dengan pepohonan dalam satu luasan lahan sangat dianjurkan untuk menjaga stabilitas produktivitas lahan. “Setiap pohon gayam yang ditanam dengan jarak 10 m × 10 m dapat menghasilkan 25–40 kg karbohidrat dari 500–800 biji yang dihasilkan, sehingga dapat menjadi solusi model pertanian vertikal yang efisien dalam memanfaatkan lahan”, tutup Albert. (sa/ed.sl)

Info Kegiatan

Laporan Tahunan

LAPORAN TAHUNAN PUSLIT BIOLOGI

1. TAHUN 2016

2. TAHUN 2017

3. TAHUN 2018

Galeri video P2Biologi

Alamat

Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Cibinong Science Center, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46
Cibinong 16911, Bogor-Indonesia
Phone: +62(0)1-87907604/87907636 , Fax : +62(0)21-87907612 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Info Kegiatan

Get Socials

© 2009-2015 by GPIUTMD

Scroll to top