WhatsApp Image 2021 04 08 at 11.12.51

Cibinong, Humas LIPI. Pada Selasa (06/07), Dr.rer.nat. Ayu Savitri Nurinsiyah, peneliti pada Pusat Penelitian Biologi LIPI menjadi Dosen Tamu pada Mata Kuliah Koleksi dan Pengelolaan Spesimen Hayati dengan Host Program Studi Biologi Universitas Padjadjaran. Mata Kuliah ini merupakan Implementasi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diselenggarakan Prodi Biologi Unpad Kanal Pertukaran Pelajar.

Pada kuliah virtual ini ada yang berbeda. Biasanya pesertanya adalah para mahasiswa dari Universitas Bengkulu, Universitas Airlangga dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun, pada kuliah kali ini dihadiri pula mahasiswa dan dosen dari UPI, UNDIP, UNESA, UKSW, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Mataram. Selain itu dihadiri pula peserta umum seperti Kurator Museum dan Guru yang berasal dari Manado. Tak heran karena kuota yang disediakan panitia untuk umum sebanyak 80 orang.

Pada kesempatan kuliah umum ini, Ayu menyampaikan materi dengan judul Koleksi dan Pengelolaan Spesimen Keong Darat di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB). Materi yang disampaikan meliputi Pengenalan Filum Molusca dan Kelas Gastropoda Kelompok Keong Darat, Cara koleksi dan Preservasi Keong Darat, dan Pengelolaan Spesimen Keong Darat di Museum Zoologicum Bogoriense.

“Dari 1 bekicot saja dapat bertelur hingga ratusan telur dan bekicot sangat aktif bereproduksi, dapat dibayangkan bahwa bekicot cukup mengganggu kondisi lingkungan,” terang Ayu dalam penjelasannya mengenai keong darat. “LIPI bersama KKP membentuk pokja biota laut lindungan yang mendata jumlah molusca dan biota laut yang ada di indonesia. Kurang lebih 4000 spesies gastropoda yang ada di Indonesia. Bekicot hanya satu dari lebih dari 1800 gastropoda terrestial, 242 gastropoda darat di Pulau Jawa, 102 diantaranya endemik Pulau Jawa. Dan bekicot termasuk gastropoda darat, bekicot adalah keong, tapi keong bukan berarti bekicot,” tambah Ayu.

Dirinya menerangkan, makro habitat keong darat terdapat di perkebunan, limestone rock, talun, hutan sekunder dan semak. Habitat yang paling cocok adalah limestone/gunung kapur karena sering ditemukan kelimpahan di lokasi tersebut. Sedangkan untuk mikrohabitatnya, keong sering berada di bawah bebatuan, seresah, batang pohon dan kayu lapuk.

“Dalam pembahasan metode koleksi, untuk keong darat dapat dilakukan dengan cara time-search/ visual search/ direct collection, top soil and leaf litter collection, sweeping limestone walls, beating and shaking trees. Menurut Cameron dan Pokryskz, metode yang disarankan adalah kombinasi, hal ini dikarenakan kemungkinan tidak semua peneliti mendatangi suatu wilayah berkali-kali. Jadi apabila punya kesempatan dan waktu yang sedikit di lapangan, maka disarankan melakukan kombinasi dari metode koleksi ini,” jelas Ayu.

Selanjutnya Ayu menjelaskan mengenai studi ekologi yang dapat dilakukan untuk keong darat karena keong darat dapat dijadikan indikator ekologi. Metode-metode yang bisa dilakukan dalam studi ekologi yaitu menetukan kuadrat, dimana luasan area yang kurang lebih memiliki vegetasi homogen/tata guna lahan yang sama. “Sebagian peneliti melakukan kuadrat kecil yaitu 1 x 1 meter agar fokus pada keong yang ada di area tersebut. Dan ada juga peneliti yang menentukan kuadrat yang besar 8m2 (4x2 m) hingga 400 m2 (20x20m). Cara menentukan luasan ada yang melakukan metoda person/hour, ini bisa dengan 1 orang 1 jam di dalam plot tersebut atau 2 orang. Bisa ditentukan dari awal asalkan konsisten dengan metode yang dipakai di area penelitiannya,” rinci Ayu. “Selain itu bisa juga dilakukan secara random untuk koleksinya yang biasa dan sistematik transek seperti pelajaran ekologi,” imbuhnya.

Ayu juga menjelaskan bahwa didalam plot pengambilan keong penting untuk dicatat variabel lingkungannya, hal ini dikarenakan keberadaan keong darat sangat ditentukan oleh lingkungan. Hal yang perlu dicatat yaitu koordinat, ketinggian, ada/tidaknya batu/bebatuan kapur/kayu lapuk, ketebalan seresah, derajat gangguan manusia, ketebalan herba/semak, topografi, kemiringan, tipe habitat, data iklim (worldclim.org) dan data tanah (soilgrids.org).

Setelah keong dikoleksi yang perlu dilakukan adalah preservasi. Ayu menyebutkan untuk preservasi dilakukan pada dua kondisi yaitu koleksi mati yang dilakukan dengan pembersihan dan pemberian label, dan koleksi hidup yang dilakukan dengan beberapa tahap. “Tahapan preservasi pada koleksi hidup yang pertama adalah dimatikan dengan ditenggelamkan dalam air (menthol crystal)/direbus/langsung ke alkohol, lalu diawetkan (96% untuk DNA, 70% untuk awetan biasa), lalu pemberian label,” lanjut ayu.

“Ada tiga komponen yang menjadi basis dalam identifikasi yaitu morfologi (cangkang, operculum, badan), Anatomi (genitalia, radula), DN. Dalam proses identifikasi dilakukan dengan penulisan label nama spesies, penggantian label, penggantian alkohol, penyimpanan dalam botol permanen,” tutur Ayu.

Setelah rangkai kegiatan mulai pengumpulan keong sampai dengan identifikasi keong, langkah terakhir adalah penyimpanan database dan penyimpanan permanen di ruang koleksi basah/kering.

Ayu juga memaparkan bahwa selain staf peneliti MZB, MZB juga menerima hasil donasi baik dari masyarakat umum maupun dari univesitas. Masyarakat yang ingin menyimpan koleksi di MZB akan minta untuk mengisi form surat penerimaan spesimen zoologi. Khusus untuk peneliti asing spesimennya harus teregitrasi dahulu, dan bahkan spesimen yang sudah teridentifikasi menjadi jenis baru, maka holotype-nya harus disimpan di dalam MZB karena itu masuk ke dalam Protokol Nagoya. (sn ed sl)

WhatsApp Image 2021 03 08 at 19.21.36

Cibinong, Humas LIPI. Kembali, dunia ornithologi dikejutkan dengan penemuan burung Pelanduk Kalimantan yang diyakini telah “hilang” 172 tahun yang lalu. Burung bernama latin Malacocincla perspicillata (Black-Browed Babbler) ditemukan secara tidak sengaja oleh dua warga Kalimantan Selatan bernama Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan, Oktober lalu. Penemuan ini sudah dipublikasikan oleh Tim yang terdiri atas anggota masyarakat, pengamat, peneliti dan staff KLHK di jurnal BirdingASIA 34 (2020).

“Temuan ini merupakan temuan yang luar biasa. Apresiasi perlu diberikan kepada tim karena telah membuka tabir misteri spesies Malacocincla perspicillata dan menambah pengetahuan,  khususnya bagi  dunia ornitonitologi,” ujar Tri Haryoko, Peneliti Ornitologi  Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Secara taksonomi Tri menjelaskan diskripsi pertama  burung pelanduk ini dilakukan oleh Charles Lucien Bonaparte pada tahun 1850 dengan nama Cacopitta perspicillata.Sebagai bahan rujukan spesimen Pelanduk Kalimantan ini disimpan di Naturalis Biodiversity Center, Belanda tahun 1940an yang dikoleksi oleh  Carl A.L.M. Schwaner. “ Burung kicauan ini memiliki beberapa nama, namanya seolah-olah berbeda, namun merupakan jenis yang sama, yaitu Trichastoma perspicillatum, Turdinus perspicillatus dan bahkan jenis ini kadang dianggap sebagai anak jenis dari  Malacocincla sepiaria (Pelanduk Semak/Horsfiedl’s  Babbler),” imbuh Tri.

Spesies ini termasuk dalam famili Pellorneidae. Berukuran sekitar 15-16 cm, memiliki mahkota berwarna coklat dibatasi oleh garis mata hitam lebar meluas melintasi malar ke tengkuk dan leher. Bagian tubuh atasnya bewarna coklat, sedangkan bagian dada bewarna keabu-abuan dengan goresan halus putih dan memiliki ekor yang pendek.

Burung endemik ini sebarannya di sekitar Martapura, Kalimantan Selatan, penghuni hutan dataran rendah dan memakan invertebrata kecil.

Pelanduk Kalimantan sampai saat ini belum termasuk dalam daftar jenis burung yang dilindungi dalam  Permen LHK No P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Kategori Status Konservasi dalam IUCN Redlist termasuk dalam kategori Data Deficient (Kurang Data), dan burung ini  termasuk dalam kategori jenis Non Appendik CITES.

Saat ini Indonesia tidak memiliki koleksi rujukan ilmiah Malacocincla perspicillata, satu-satunya rujukan ilmiah hanya ada di Naturalis Biodiversity Center, Netherlands Belanda. Sehingga ketika terjadi kebingungan dan kesulitan identifikasi berdasarkan panduan yang ada, maka konfirmasi jenis ini harus dilakukan dengan pembanding dari specimen yang ada di Belanda. Oleh karena itu sangat penting Indonesia juga memiliki rujukan ilmiah Malacocincla perspicillata untuk kepentingan identifikasi dan mempelajari jenis  ini

Sifat spesies yang tidak mencolok menjadikan burung ini kurang teramati oleh pengamat burung, dan kurangnya survei lapangan menjadikan banyak informasi yang belum terungkap. “Informasi yang kita miliki masih sangat terbatas dan perlu diungkap lebih lanjut seperti aspek karakter jenis, ekologi dan fisiologisnya, yaitu meliputi  genetika, perilaku, suara; populasi, sebaran, pakan, reproduksi dan perkembangbiakannya,” ujar Tri.

Tri menyadari permasalahan kurangnya data dan informasi pengungkapan spesies baru menjadi tantangan bersama dalam pengungkapan spesies. “Kita perlu meningkatkan peranan citizen science, dengan melibatkan masyarakat dalam pengumpulan, pengarsip, analisis,dan berbagi data keanekaragaman hayati untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Nantinya informasi tersebut perlu validasi oleh para ahli yang terkait. Wilayah Indonesia sangat luas, tingginya keanekaragaman burung  dan keterbatasan SDM peneliti, memerlukan  kolaboarsi bersama dengan instansi terkait dan melibatkan masyarakat yang concern terhadap pelestarian  satwa,” jelas Tri.

Teguh Willy Nugroho, salah satu penulis makalah BirdingASIA dan juga staf Taman Nasional Sebangau di Kalimantan, dan anggota pendiri BW Galeatus juga memiliki pendapat yang sama bahwa penemuan luar biasa ini menunjukkan pentingnya jaringan masyarakat lokal, pengamat burung, dan ilmuwan profesional dalam mengumpulkan informasi tentang keanekaragaman hayati Indonesia,

Tak hanya itu, Tri juga berharap dengan kerlibatan Citizen Science akan meningkatkan kesadaran konservasi, kemudahan akses informasi dan membangun basisdata keanekaragaman hayati untukmengungkap jenis-jenis lainnya yang belum terungkap.  “Untuk selanjutnya perlu ditindak lanjuti dengan upaya-upaya perlindungan  dan penelitian lebih lanjut untuk aspek-aspek lainnya. Semoga spesies yang ditemukan oleh tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini bukan spesimen tunggal dan terakhir, namun masih bisa dijumpai jumlahnya yang banyak dan tetap lestari di alam,” tutup Tri. (sa/ed.tri)

 

Podcast Ayu Savitri Keong ew ed sl

 

Cibinong. Humas LIPI. Bagi wanita, produk kecantikan yang mengandung lendir keong sudah tidak asing lagi. Baik berupa masker, serum atau produk kecantikan lainnya. “Lendir keong memiliki banyak kolagen. Fungsinya untuk mengencangkan kulit, mempercepat pembentukan sel-sel baru, termasuk cepat mengobati luka dengan menstimulus sel-sel baru benang fibrin, “ tutur Ayu Savitri Nurinsiyah, Peneliti Moluska Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dirinya mengatakan, Thailand sudah mengembangkan produk kosmetik berbahan dasar lendir keong, bahkan Thailand mengklaim produk-produk yang dikeluarkan di Korea menggunakan lendir keong mereka. “ Thailand sudah memanfaatkan keong asli mereka, jadi bukan keong invasif atau keong impor yang dikembangkan di negara mereka,” ungkapnya pada siaran podcast, kolaborasi antara LIPI melalui Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas bersama Podme, pada Rabu (24/3).

Ayu mengungkapkan, saat ini peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI tengah berkolaborasi dengan peneliti Pusat Penelitian Biomaterial LIPI dan peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. “Kita tidak menggunakan bekicot tetapi menggunakan keong asli Indonesia untuk mengetahui konten yang ada di lendir supaya kedepannya dapat dimanfaatkan untuk nutricosmeceutical. Sehingga kita tidak perlu impor untuk mengembangkan skincare dari lendir keong atau mungkin kita bisa membuat yang lebih istimewa dari yang mereka buat,” ungkapnya.

Ayu pun menjelaskan, fungsi lendir bagi keong selain untuk membantu bergerak lendir juga merupakan ungkapan perasaan keong. Pada saat keong merasa dirinya tidak nyaman atau terancam mekanisme untuk mempertahankan dirinya dengan mengeluarkan lendir. Begitu pula pada saat keong merasa nyaman atau bahagia.

Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang bingung membedakan antara keong, siput dan bekicot. “Bekicot adalah keong tetapi keong belum tentu bekicot. Keong dan siput hampir sama, siput termasuk keong tetapi keong belum tentu siput,” jelas Ayu.

“Bekicot adalah jenis keong darat dan termasuk salah satu spesies invasif di dunia. Siput adalah keong yang tidak bercangkang. Bentuknya seperti lintah sering muncul pada saat hujan di halaman rumah,“ tambah Ayu. Menurut Ayu kekeliruan nama lokal yang sering muncul tidak perlu diperdebatkan. Namun pada saat menggunakan nama latin harus benar karena nama merupakan identitas diri.

Selama ini peranan keong di lingkungan hampir luput dari perhatian manusia. “Padahal Yang Maha Kuasa menciptakan sesuatu di dunia ini ada fungsi dan maksudnya. Tugas manusialah untuk mencari tahu.” kata Ayu. Hal yang menarik Ayu untuk terus mengungkap keong karena selama ini keong dianggap tidak penting, menjijikan, bentuknya jelek bahkan sering ada di lingkungan yang kotor seperti sampah. “Ternyata keong mempunyai bermacam-macam manfaat buat manusia. Seperti memiliki kolagen, cepat menyembuhkan luka karena memiliki antibakteri atau sebagai indikator ekologi. Hal-hal ini membuat saya takjub dan semakin tidak tahu. Karena itu salah satu tugas saya memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang keong,” terang Ayu.

Ayu mengatakan, memang ada keong hama. Namun seperti di Jawa terdapat 242 jenis keong darat dan yang invasif ada 12 jenis, tiga diantaranya umum dijumpai seperti keong pada kol yang berbentuk bulat, keong sumpil dan keong yang berbentuk panjang. “Keong asli dan endemik sangat sensitif terhadap perubahan habitat. Mereka tidak dapat hidup di lahan terbuka sehingga manusia tidak boleh serampangan merusak lahan. Lahan terbuka mengakibatkan kematian yang tinggi, hanya keong-keong invasif yang bertahan hidup,” jelas Ayu.

Hingga kini Ayu sedang melakukan penelitian lendir keong asli Indonesia yang bisa dijadikan bahan skincare. “Yang pasti keong asli Indonesia yang digunakan. Alasannya adalah bekicot hidup di bermacam-macam tempat, adaptif dan pemakan segala. Kalau keong asli spesifik, memakan makanan tertentu sehingga kandungan-kandungan yang ada di badannyapun spesifik,” jelas Ayu.

“Sudah ada beberapa kandidat kelompok keong dimana salah satunya masih bersaudara dengan yang digunakan di Thailand. Dari segi jumlah lendir yang dihasilkan cukup banyak, dapat bertahan hidup dalam kondisi laboratorium, dan saat ini masih dalam kondisi meneliti kandungan lendirnya. Jika efektif dan baik mudah-mudahan kedepannya ada titik terang untuk dikembangkan,” kata Ayu mengakhiri. (ew ed sl)

WhatsApp Image 2021 03 02 at 06.57.35

Cibinong, Humas LIPI. Menjawab keterpedulian dunia akan bahaya penggunaan bahan kimia agro yang berlebihan dan seiring kemajuan teknologi bioproses, molekuler, serta tuntutan penyediaan pangan sehat secara global yang berkelanjutan, hingga kini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Biologi LIPI terus melakukan penelitian dan pengembangan Pupuk Organik Hayati (POH) berbasis mikroba Indonesia. Hal ini selaras dengan semangat Presiden RI Joko Widodo yang pernah menyatakan Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan produk berbasis ekonomi hijau pada forum 11th Kompas 100 CEO Forum: "Let's Collaborate; Rising in Pandemic Era", pada 21 Januari 2021.  Ekonomi hijau merupakan sebuah perspektif ekonomi baru yang meminimalisasi faktor kerusakan lingkungan dan dapat mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Sesungguhnya, pemanfaatan kekayaan biodiversitas agen hayati pertanian telah dimulai oleh Peneliti LIPI, Dr. Sarjiya Antonius dan Tim Peneliti Mikrobiologi Pertanian, Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan pengoleksian sampel dari tanah-tanah seluruh Indonesia mulai dari Sumatera sampai Papua untuk mendapatkan kandidat mikroba unggul dalam pembuatan POH. Penelitian  secara konsisten jangka panjangpun berbuah manis dengan dihasilkannya mikroba-mikroba unggul yang telah dilakukan melalui uji laboratorium, uji rumah kaca, uji lapangan, dan selanjutnya berkat keberhasilan dalam produksi skala pilot dan masal (ribuan liter) maka dilakukan diseminasi-alih teknologi pada pemda, industri dan masyarakat.

POH Beyonic Startmik LIPI

POH Beyonic Startmik LIPI merupakan capaian produk unggulan dibidang pangan LIPI seperti dilaporkan dalam ‘Capaian LPNK Kemenristekdikti IPTEK Untuk Kesejahteraan Bangsa 2018’. Teknologi yang digunakan dalam pengolahan POH adalah Beyond Bio-organic, initiative for conservation (Beyonic) berbasis biodiversitas mikroba unggulan asli Indnesia yang digunakan resmi sejak 11 tahun lalu. Beyonic merupakan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan menurunnya kualitas lahan pertanian akibat penggunaan pupuk sintetis atau kimia yang berlebihan dan berdampak pada produksi pertanian tidak optimal. Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan mengurangi pemakaian pupuk buatan.

Sarjiya Antonius yang akrab dipanggil Anton tersebut menjelaskan, POH Beyonic Startmik LIPI mengandung 10 isolat mikroba rhizosfer pemacu pertumbuhan tanaman (PGPR) unggulan dengan multi aktivitas biokatalis, penyedia P, N, hormon tumbuh, asam amino dan asam-asam organik lainnya serta agen biokontrol. “POH Beyonic Startmik Cocok untuk semua komoditas tanaman pada pertanian organik maupun konvensional dengan dosis aplikasi 5-7 L/Ha, dan peningkatan produksi 25-50%,” terangnya pada Humas LIPI (02/03).

“Salah satu tujuan besar kami bagaimana mengurangi pupuk kimia dan pestisida dengan menggunakan pupuk organik hayati tetapi produksi tetap meningkat sehingga menjadi semakin menguntungkan bagi masyarakat petani. Manfaat lain bahwa petani bisa menghindari terjadinya pencemaran lingkungan dan juga bisa menghasilkan produk pertanian yang sehat. Harapannya ini sangat penting dapat menunjang program ketahanan pangan nasional  kedepan,” imbuh Anton.

Beberapa patent pun telah diperoleh dari penelitian POH, diantaranya “Formula POH dan cara pembuatannya” dengan Nomor Patent P00201601284, IDP000064813  dan “Formula Biang Induk dan non axenic cryopreservation” dengan Nomor Patent: P00201803551, dan 3 paten yang lain terkait inovasi limbah organik menjadi pupuk organik cair dan padat.  Tak heran, beberapa penghargaan dalam dan luar negeri terkait pengembangan POH juga sudah diterima, diantaranya: Penghargaan sebagai Inventor Kategori Penerima Royalti Tertinggi LIPI 2019, Alih Teknologi award LIPI 2017, dan KS Bilgrami Memorial Award-2016 dari Indian Society for Plant Research (SPR).

Publikasi dan Diseminasi POH

Berkaitan dengan data-data penelitian, POH Beyonic Startmik telah dipublikasikan dalam jurnal nasional maupun internasional dan ditulis menjadi bagian buku yang diterbitkan di penerbit internasional oleh Sarjiya Antonius dan tim serta dapat diakses melalui google scholar maupun website LIPI.

Lebih jauh Anton menerangkan bawa beberapa Pemda telah mengadopsi dan mengembangkan POH berbasis pemberdayaan masyarakat. Begitu pula 3 perusahaan swasta telah melisensi dan ada pula yang masih dalam proses melisensi. Tak ketinggalan beberapa Gapokan dan praktisi pertanian telah mengadopsi secara terbatas.

Dalam jangka waktu sekitar 7 tahun sebelumnya telah dilakukan sosialisasi, diseminasi dan pelatihan POH di lebih dari 120 wilayah Kabupaten/Kota. Kegiatan diseminasi POH masih terus berjalan meski pandemi COVID-19 melanda negeri, mengingat banyaknya permintaan. Mitra LIPI di DPR RI yakni Komisi VII, sangat aktif meminta Tim POH LIPI turun ke daerah-daerah di seluruh Indonesia. Selama tahun 2020, tercatat 10 wilayah di Indonesia sudah merasakan diseminasi Tim POH LIPI. 

Bulan Maret 2021, Tim POH LIPI Anton, sudah teragenda mengunjungi beberapa wilayah lainnya di Indonesia sesuai permintaan dari Komisi VII DPR RI. “Kami siap melayani untuk penelitian dan formulasi biang induk komuditas spesifk dan wilayah endemik tertentu. Jika ada permintaan diseminasi, dapat bersurat langsung ke pimpinan LIPI, “ ujar Anton dengan ramah.

“Saat ini, kami sudah mempunyai POH spesifik untuk serealia, singkong, pisang dan kacang-kacangan. POH spesifik ini berbeda dengan POH di peredaran yang lebih bersifat general untuk semua komoditas pertanian. Adapun proyek yang sedang berjalan adalah kombinasi pembenah tanah dengan POH untuk bawang dan POH untuk cabai,” terang Anton.

Pada kegiatan yang pendanaan penelitiannya berasal dari mandatori Ristek-BRIN LPDP, penekanan kajian yang dilakukan adalah kesehatan tanah berbasis mikrobiom, dengan target akhir teknologi formulasi-pembuatan pembenah tanah yang diperkaya mikroba unggulan serta aplikasinya pada budidaya bawang merah dan putih. “Mikroba unggulan yang menjadi andalah adalah yang memiliki aktivitas dalam mengatasi cekaman biotik (penyakit tanaman) dan cekaman abiotik (salinitas, kekeringan dan pencemaran).  Kita berkarya semaksimal mungkin untuk negeri dalam segala keterbatasan saat masa Pandemi ini,” pungkas Anton. (SHF, SL)

WhatsApp Image 2021 03 09 at 13.58.05

Cibinong, Humas LIPI. Ayu Savitri Nurinsiyah peneliti muda Pusat Penelitian Biologi - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kelahiran 1986, awal Maret ini baru kembali dari kegiatan lapangan bersama tim peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI. Ayu dan tim memilih Pegunungan Menoreh Jawa Tengah  menjadi lokasi  penelitian awal dalam rangkaian kegiatan penelitian mengenai Karakterisasi Potensi Fauna Asli Indonesia dengan mengusung proposal Lendir Keong Darat Sebagai Sediaan nutra Cosmeceutical dan Sarang Laba-Laba Sebagai Serat Alami. Semula kegiatan ini dilakukan pada tahun lalu, namun karena pandemi baru dapat dilaksanakan pada 2021.

Kegiatan lapangan dilakukan untuk mendapatkan sampel berupa spesimen hidup tertarget yaitu fauna native dari Pulau Jawa yakni keong darat dan laba-laba. Karena ketersediaan spesimen hidup menentukan keberlangsungan berjalannya penelitian selanjutnya di laboratorium. Sedangkan tujuan penelitian ini untuk mengungkap karakter lendir keong darat sebagai sediaan nutra cosmeceutical dan sarang laba-laba sebagai sumber serat alami.

Alumni Universität Hamburg, Germany yang lulus dengan predikat Magna Cum Laude ini resmi bergabung sebagai peneliti moluska di Pusat Penelitian Biologi LIPI pada tahun 2018. Perkenalan dengan LIPI dimulai saat Ayu kuliah S1 di Universitas Padjadjaran akan melakukan tugas magang. Dirinya membutuhkan peneliti taksonomi keong darat. Karena di kampusnya belum ada,  Ayu pun menghubungi  seniornya yang lebih dulu menjadi peneliti di Pusat Penelitian Biologi  untuk dicarikan peneliti yang dibutuhkannya dan bertemulah ia dengan Ristiyanti Marsetiyowati Marwoto.

“Saat magang dan skripsi pekerjaan saya betul-betul di lab dan mengerjakan koleksi. Saya melihat koleksi yang ada di Museum Zoologi Pusat Penelitian Biologi tidak membuat saya bosan bahkan membuat saya penasaran dan penasaran,” kata Ayu bersemangat. Sejak itu Ayu bekerjasama dengan Pusat Penelitian Biologi, bahkan saat melanjutkan kuliah S2 ke Belanda dan S3 ke Jerman Ayu tetap kontak dengan Pusat Penelitian Biologi untuk memenuhi rasa penasarannya.

Peneliti yang punya hobi jalan-jalan ini  tertarik dengan hewan lunak sejak kelas 3, Sekolah Menengah Atas. Berawal saat sepupunya terluka karena menginjak beling dan mengeluarkan darah cukup banyak, darah yang keluar menggumpal beku sesaat setelah ditempelkan lendir bekicot. “Karena lendir keong memiliki zat antibakteri,” jelas Ayu.

Kemudian Ayu diminta untuk membuat karya tulis ilmiah dalam rangka mengikuti ujian akhir sekolah (UAS). “Karena saya jurusan IPA saya memilih mata pelajaran Biologi dan menulis tentang keong. Untuk membuat tulisan tentu harus banyak membaca. Semakin banyak membaca semakin banyak informasi keong yang saya belum ketahui. Banyak pengetahuan baru tentang keong,” ujar Ayu.

Rasa penasaran Ayu terhadap keong darat terus berlanjut hingga mengambil gelar sarjana di Universitas Padjadjaran (Unpad). Bahkan, dia mengatakan karya ilmiah, praktek kerja lapangan, hingga skripsinya berkaitan dengan keong darat. “Kunci saya betah di keong darat sebenarnya karena semakin lama semakin tidak tahu, bikin penasaran dan misteri,” tambah Ayu.

Dari hasil eksplorasi, Ayu berhasil menemukan 23 jenis baru keong darat endemik pulau Jawa. Sebagian besar keong darat tersebut berukuran mikro sehingga Ayu membutuhkan mikroskop untuk mengamatinya.

“Ada 23 jenis baru yang ditemukan sejak tahun 2017, namun satu belum diberi nama karena ditemukan hanya satu spesimen secara tidak sengaja di dalam spesimen milik museum Belanda yang sedang dikerjakan,” kata Ayu menjelaskan. Ayu hanya memberi nama sp saja, microsnail tersebut berukuran 1 – 2 mili yang nyempil dalam keong lain yang sedang diteliti. Setelah dikeluarkan ternyata berbeda dengan dengan jenis sebelumnya dan belum diberi nama karena kuatir kedepannya salah dan memberi kesempatan kepada peneliti lain untuk pertimbangan bahwa itu benar baru atau salah, ” urai Ayu.

Sebanyak 16 dari 23 jenis baru keong darat endemik Jawa temuan Ayu bersama Marco Neiber dan Bernhard Hausdorf (Centrum für Naturkunde / CeNak, Universität Hamburg, Jerman) dipublikasikan dalam “Revision of the land snail genus Landouria Godwin-Austen, 1918 (Gastropoda, Camaenidae) from Java“ yang diterbitkan oleh European Journal of Taxonomy edisi Mei 2019.

Keenam belas spesies tersebut adalah Landouria parahyangensis yang dinamakan berdasarkan area sebaran spesies tersebut, yaitu di tanah Sunda (Parahyangan). Landouria petrukensis diberi nama Petruk karena hanya ditemukan di kawasan Gua Petruk, Kebumen, Jawa Tengah. Landouria abdi dalem terinspirasi dari abdi dalem Keraton Yogyakarta dimana spesies tersebut ditemukan di Provinsi Yogyakarta. Landouria naggsi, Landouria nusakambangensis, Landouria tholiformis, Landouria tonywhitteni, Landouria madurensis, Landouria sewuensis, Landouria sukoliloensis, Landouria nodifera, Landouria pacitanensis, Landouria zonifera, Landouria pakidulan, Landouria dharmai, dan Landouria menorehensis.

Penemuan jenis baru lainnya oleh  Ayu dan  Bernhard Hausdorf dipublikasikan dalam “Dicharax (?) candrakirana n. sp. (Gastropoda: Cyclophoridae) from Sempu Island, Indonesia yang diterbitkan oleh Zootaxa 4363 (4): 589–591, edisi Desember 2017 dan dalam “Revision of the Diplommatinidae (Gastropoda: Cyclophoroidea) from Java” oleh Zootaxa 4312 (2): 201–245, edisi Agustus 2017. Keenam spesies baru tersebut adalah Dicharax candrakirana, Diplommatina halimunensis, Diplommatina kakenca, Diplommatina ristiae, Diplommatina heryantoi dan Arinia yanseni.

Di sini Ayu juga menyampaikan apa yang akan menjadi fokus utama dirinya selanjutnya yaitu mengungkap keanekaragaman hayati keong di Indonesia dan memotivasi banyak orang bahwa negara Indonesia itu adalah negara yang kaya sekali dengan keanekaragaman hayatinya. Keanekaragaman hayati  bisa menjadi landasan berbagai teknologi inovasi. “Jadi yang utama adalah mengungkap biodiversity dulu, “ ujar Ayu.

Kedepan Ayu ingin bekerjasama dengan peneliti di bidang lain untuk mengungkap lebih dalam lagi potensi lendir keong. Ayu menyadari bahwa sekarang bukan zamannya lagi semua harus dikerjakan sendiri. Sekali lagi Ayu mengingatkan yang paling penting di sini adalah kita harus mengetahui keanekaragaman hayati yang kita miliki.

Selama sembilan tahun, Ayu menjadi diaspora di Belanda, Prancis, Inggris, dan Jerman. Saat pulang tahun 2018, LIPI membuka jalur diaspora dalam mekanisme perekrutan calon pegawai negeri sipil (CPNS).  “ Alhamdulillah lulus dan sekarang jadi peneliti di laboratorium moluska, Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI,” ungkap Ayu.  Ayu seperti menemukan “tempat seumur hidup”, karena banyak sekali yang bisa dikerjakan di sini. Apalagi saat ini hanya ada dua peneliti taksonomi moluska di LIPI.

Lendir keong jugalah yang mengantar Ayu menerima penghargaan L’Oreal-Unesco for Women in Science National Fellowship 2019 untuk riset spesies keong darat Jawa yang memiliki antimikroba dari protein lendirnya. Selain itu Ayu mendapatkan pula Tony Whitten Conservation Prize yang diselenggarakan oleh Cambridge Conservation Initiative pada akhir tahun 2019. Dan sejak 2015 sampai saat ini, Ayu sudah berhasil memiliki 10 publikasi internasional delapan diantaranya sebagai penulis pertama.

Selain menjadi seorang ilmuwan, perempuan ini juga merupakan seorang ibu dari dua anak. Perannya pun merangkap sebagai ibu, istri, anak, peneliti, dan yang lainnya.  Capaian yang telah diraih Ayu hingga kini tak lepas dari dukungan berbagai pihak terutama dukungan terbesar dari keluarga. Setiap dukungan yang didapatkan, dijadikan Ayu sebagai kekuatan baru untuk melanjutkan misi dari penelitian ini.(ew ed sl)

WhatsApp Image 2021 01 13 at 12.50.33

Cibinong, Humas LIPI. Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil (dalam ukuran mikron), sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat bantu. Mikroorganisme banyak macamnya, diantaranya virus, bakteri, protozoa dan jamur mikroskopis. Bentuk mereka juga bermacam-macam, virus ada yang berbentuk seperti bola/bulat, tabung dan ada juga yang seperti robot. Bakteri biasanya uniseluler atau bersel tunggal dengan berbagai variasi bentuk. “Di alam jumlah mikroorganisme sangatlah banyak, bahkan lebih banyak dari yang manusia ketahui,” ucap Sugiyono Saputra yang merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI pada acara “Me vs Science” yang berlangsung secara virtual pada Selasa (12/01). 

Kegiatan rutin yang terselenggara atas kerjasama antara LIPI dan PODME Metro TV ini, menghadirkan peneliti berbeda setiap minggunya sesuai dengan tema. Pada episode kedua kali ini, tema yang diangkat adalah mikroorganisme terutama mikroorganisme pada hewan yang dapat menimbulkan zoonosis, yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan kemanusia.

Sugiyono menyampaikan bahwa untuk dapat melihat bakteri kita dapat menggunakan bantuan mikroskop cahaya. Tetapi untuk dapat melihat virus, kita membutuhkan mikroskop elektron karena ukuran virus yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan ukuran bakteri. Ukuran virus terbesar pun masih lebih kecil dari ukuran bakteri terkecil.“Sebagai gambaran mikroskop cahaya memiliki perbesaran hingga 2000 kali sedangkan mikroskop elektron tercanggih memiliki hingga lebih dari satu juta kali perbesaran,” ungkap Sugiyono.

Sugiyono menjelaskan, mikroorganisme memang banyak yang menyebabkan penyakit atau bersifat pathogen namun mikroorganisme yang menguntungkan jauh lebih banyak dan mereka memiliki peranan penting dalam tubuh inang dan lingkungan. Walaupun kita bersinggungan dengan bermacaam-macam mikroba, tidak semuanya dapat menimbulkan penyakit. Sebagai contohnya virus, dia harus memiliki kecocokan reseptor dengan sel inang sebelum dapat menginfeksi dan menimbulkan penyakit. Jika tidak ada kecocokan reseptor, maka mereka tidak bisa menginfeksi inangnya. 

Terkait dengan mengapa bisa timbul penyakit zoonosis, dirinya menjelaskan bahwa salah satunya dipicu oleh ketidak seimbangan ekosistem di alam sebagai akibat dari deforestasi, penambangan dan perburuan satwa liar. Rusaknya habitat dan makin intensnya kontak manusia dengan satwa liar inilah yang memicu ekspansi satwa liar kepopulasi manusia, sehingga makin meningkatkan resiko transmisi mikroorganisme yang dibawa oleh satwa liar tersebut. “Salah satu pemicu timbulnya yang saat ini menjadi concern kita bersama adalah kebiasaan berburu satwa liar seperti ular, kelelawar, trenggiling untuk konsumsi dan obat tradisional. Kontak langsung dengan mereka adalah titik berbahaya dimana pathogen berbahaya yang mereka bawa bisa saja ditularkan kemanusia,” tuturnya.

“Zoonosis merupakan ancaman bagi kesehatan manusia secara global. Diketahui sekitar lebih dari 60 persen penyakit infeksi di dunia merupakan zoonosis. Dari sekitar lebih dari 1400 patogen, lebih dari 200 diantaranya adalah virus dan lebih dari 500 diantaranya merupakan bakteri” terangnya. Lebih lanjut Sugiyono menjelaskan bahwa salah satu contoh dari penyakit yang merupakan zoonotic origin yaitu adalah Ebola virus yang berasal dari kelelawar, demikian juga SARS-CoV-2 penyebab COVID 19.

Lebih lanjut, kemunculan penyakit infeksi baru adalah suatu kemungkinan di masa depan dan bahkan kita harus bersiap-siap untuk itu. Dikarenakan kebanyakan penyakit infeksi tersebut adalah zoonosis, maka sudah sepantasnya kita meminimalisir resiko kemunculannya dengan cara menjaga kesehatan manusia, hewan dan lingkungan. “Keseimbangan ekosistem harus tetap dijaga, terutama populasi satwa liar yang membawa pathogen berbahaya agar tetap berada dalam habitatnya, agar mikroorganisme berbahaya yang dibawanya tersebut tidak bertransmisi kemanusia,” pungkas Sugiyono.(eb ed sl/ss)

125 Th MZB

Laporan Tahunan

LAPORAN TAHUNAN PUSLIT BIOLOGI

1. TAHUN 2016

2. TAHUN 2017

3. TAHUN 2018

Galeri video P2Biologi

Alamat

Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Cibinong Science Center, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46
Cibinong 16911, Bogor-Indonesia
Phone: +62(0)1-87907604/87907636 , Fax : +62(0)21-87907612 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Info Kegiatan

Get Socials

© 2009-2015 by GPIUTMD

Scroll to top