CSC, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46,
Cibinong 16911

+62 (21) 876 5056
biologi@mail.lipi.go.id

Ekspedisi Enggano

Written by DEO

Ekspedisi Enggano

 

 

 

Pulau Enggano merupakan salah satu pulau terluar dari kepulauan Nusantara. Pulau Enggano telah dikenal sebagai Daerah Burung Endemik atau Endemic Bird Area (EBA). Merupakan konsep pendekatan BirdLife International dalam mengidentifikasi tempat-tempat terkonsentrasinya keanekaragaman hayati dunia. Di dunia terdapat 221 EBA, dan Indonesia adalah negara yang memiliki EBA terbanyak dengan 24 daerah. (Sujatnika, 1995).

 

Nama Enggano sendiri sebenarnya bukan merupakan kosakata tempatan. Melainkan sebuah penamaan pelayar Eropa masa sebelum Cornelis D Houtman menyinggahinya, pulau ini telah dinamai sebagai Engano dalam Bahasa Portugis artinya adalah “kesalahan” atau dalam terjemahan kosakata Inggris; mistake (kesalahan), deception (khayalan), error (kesalahan), miscalculation (salah hitung) atau sham (menipiu).

 

Letak dan Lokasi

 

 

 

Enggano merupakan Pulau dengan luasan Daerah Burung Endemik tersempit di Indonesia yakni dengan luas 39.586,74 Ha dan Panjang garis Pantai 126,71 km, memanjang sejauh 35.60 km dari arah barat laut menuju tenggara atau dari Teluk Berhau sampai Tanjung Kahoubi. Melebar 12.95 km dari timur laut menuju barat daya atau dari Pelabuhan Malakoni sampai Tanjung Kioyo. Terpisah oleh Samudera Hindia dari pulau Sumatera.

Luas kawasan hutan yang ada di Pulau Enggano sebesar 36.32 % dari total luas wilayah. Luas kawasan hutan yang berfungsi sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan dan pelestarian ekosistem (Kawasan hutan konservasi dan Hutan Lindung) adalah 30,79 %; sedangkan yang berfungsi sebagai penghasil kayu luasnya 5,54 %.

 

Fauna Pulau Enggano

Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau yang terkaya dengan keanekaragaman jenis faunanya, tercatat sebanyak 196 jenis mamalia dan 580 jenis burung tersebar di pulau ini. Hampir semua pulau di sekitar Sumatera mempunyai persamaan dalam hal faunanya, kecuali dua pulau di sebelah Barat yaitu Pulau Enggano di Bengkulu dan Pulau Simeulue di Aceh, sehingga kedua pulau tersebut miskin akan fauna. Contohnya, di kedua pulau tersebut tidak dijumpai jenis bajing atau tupai. Pulau Enggano hanya memiliki 17 jenis mamalia tiga diantaranya endemik dan 29 jenis burung serta dua diantaranya endemik.

 

 

 

 

 

Mamalia

Jenis-jenis mamalia besar seperti kerbau, sapi, rusa, dan babi menurut sejarahnya dibawa dari daratan Sumatera pada jaman Kolonial Belanda. Sampai sekarang ini ada informasi yang menjelaskan bahwa kerbau dan sapi tersebut masih hidup dan berkembang biak secara liar. Berdasarkan Data IUCN Red List of Threatened species terdapat 2 Spesies mamalia yang telah didentifikasi lebih dari 100 Tahun yang lalu, dimana keberadaannya pada saat ini sangat dimungkinkan terjadi kepunahan yakni Rattus enganus dan Rattus adustus yakni dua spesies Tikus yang menjadi Mamalia Endemik Pulau Enggano. Dijumpai Pula Jenis Kelalawar Hutan dan Kalong. Babi hutan dalam hidup berkelompok dan yang soliter dijumpai baik hutan perbukitan dan maupun di hutan rawa. Sesekali untuk mendapatkan mineral garam dijumpai babi hutan mendatangi pesisir pantai.

 

­        

 

 

            

 

 

 

Reptil dan Satwa Lainnya

Jenis Hewan melata yang dijumpai di Pulau Enggano antara lain; Buaya Muara (Crocodylus porosus), Ular Sanca (Python reticulatus), Ular Air (Enhydris enhydris), Cicak Terbang Hijau (Draco sp), Tokek Hutan (Gekko sp), Kurakura,( Terrapene Sp), Biawak (Varanus dumerilli), Kadal (Mabuya multifasciata), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate), Penyu Belimbing (Demochelys coriacea). Satwa lainnya yang bisa dijumpai yakni Lokan (Polymesoda expansa), Umang-umang (Ceonobita clypeatus), Katak Kecil (Microhyna achatina) Kodok Mancung, Keong Hutan.

 


 

Cagar Alam Sungai Baheuwo

Cagar Alam Sungai Baheuwo merupakan salah satu pintu gerbang pulau Enggano. Jika memasuki Pulau Enggano melalui Jalur Kapal Ferry maka pertama kalinya kita akan dihadapkan dengan hamparan hutan mangrove nan asri dengan tegakan Riszhopora Spp yang lebat.

 

Letak lokasi.

Secara Geografis berada di 05°05’30” - 05°23’00” LS dan 102°22’ - 102°23’15” BT. Berada di Arah Tenggara Pulau Enggano. Secara Administratif berada pada Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, di dalam dua desa yakni Desa Kahyapu pada kawasan bagian selatan dan Desa Kaana pada Kawasan bagian utara. Berdasarkan pembagian wilayah kerja Kehutanan berada pada Pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah I, Resort Enggano pada Balai Konservasi.

Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Arah Timur dan Utara berbatasan dengan Samudara Hindia, Sebelah Utara dan Barat Laut berbatasan dengan Desa Kaana dan Sebelah Barat Daya berbatasan dengan Desa Kahayapu.

 

 

Cagar Alam Teluk Klowe

Cagar Alam Sungai Baheuwo, Cagar Alam Teluk Klowe juga merupakan salah satu pintu gerbang pulau Enggano. Jika CA. Sungai Baheuwo merupakan sisi pintu sebelah Timur (Kanan), maka CA. Teluk Klowe merupakan sisi pintu pada bagian Barat (kiri). Keduanya dipisahkan oleh areal pelabuhan ferry dan areal pemukiman Desa Kahyapu. Akan tetapi habitat mangrove keduanya masih merupakan satu kesatuan yang hanya dipisahkan oleh jalan utama.

 

Letak lokasi.

Secara Geografis berada di 05°17’ - 05°31” LS dan 102°05’ - 102°25’ BT. Berada di Arah Tenggara Pulau Enggano. Secara Administratif berada pada Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, di dalam dua desa yakni Desa Kahyapu. Berdasarkan pembagian wilayah kerja Kehutanan berada pada Pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah I, Resort Enggano pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu.

 

 

Cagar Alam Tanjung Laksaha

Cagar Alam Tanjung Laksaha atau Atau oleh masyarakat setempat disebut dengan Tanjung Lakaoha merupakan salah satu Cagar Alam yang memiliki habitat mangrove yang masih lebat di wilayah paling Utara Pulau Enggano. Kerena diwalayah cagar alam tersebut bermuara dua Sungai dengan debit air yang tergolong besar yakni Kuala Barhau dengan dengan panjang aliran 11.7 km dg luas areal tangkapan 29 km2 dan Kuala Kahabi dengan panjang aliran 15.60 km dengan luar arel tangkapan 61 km2. Kedua muara tersebut mengalir pada muara yang berdekatan dengan jarak lebih kurang 2.5 Km dengan membentuk satu kesatuan habitat mangrove. Hasil sedimen lumpur kedua muara tersebut menjadikan Cagar Alam Tanjung Laksaha menjadi habitat yang baik bagi ekosistem hutan mangrove.

 

Letak lokasi.

Secara Geografis berada di 05°17’ - 05°19’30” LS dan 102°05’ - 102°10’ BT. Berada di Ujung utara Pulau Enggano. Secara Administratif berada pada Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, di dalam wilayah desa administrative Banjarsari. Berdasarkan pembagian wilayah kerja Kehutanan berada pada Pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah I, Resort Enggano pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Arah Utara dan Timur berbatasan dengan Samudera Hindia, Sebelah Selatan dan Barat Berbatasan dengan Desa Banjarsari.

 

 

Cagar Alam Kioyo I & II

Kedua Cagar Alam ini terbentang secara memanjang di pantai barat pulau Enggano. Didominasi oleh ekosistem hutan pantai. Terdapat ekosistem mangrove yang tipis di beberapa muara sungai, sedikit ekosistem hutan rawa di belakang ekosistem hutan pantai dan ekosistem hutan dataran rendah pada batas luar daratan.

CA.Kioyo I dan CA.Kioyo II dipisahkan oleh Pantai Abeha dan Pantai Kioyo di Teluk Kioyo di sekitar Sawang Bugis. Cagar Alam Kioyo I berada di pantai barat bagian selatan yang didominasi oleh hutan pantai yang kering dan Cagar Alam Kioyo II berada di pantai barat bagian utara dengan ekosistem yang lebih bervariatif yakni hutan pantai, mangrove yang tipis di beberapa muara sungai, hutan rawa dan hutan dataran rendah.

 

Letak lokasi.

Secara Geografis berada di 05°17’ - 05°19’30” LS dan 102°05’ - 102°10’ BT. Terletak memanjang pantai Barat Pulau Enggano. Secara Administratif berada pada Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, berada di empat wilayah desa yakni Desa Malakoni di bagian utara, Desa Apoho dan Desa Meok di bagian tengah serta Desa Banjar Sari di bagian Utara.desa administrative Banjar Sari. Berdasarkan pembagian wilayah kerja Kehutanan berada pada Pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah I, Resort Enggano pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu.

 

 

Taman Buru Gunung Nanu’ua

Taman Buru Gunung Nanu’ua merupakan kawasan Hutan Konservasi yang pertama kali ditunjuk sebagai kawasan hutan di Pulau Enggano. TB.Gunung Nanu’ua ditujuk Sebagai Taman Buru berdasarkan SK Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor: 741/Kpts/Um/ II/1978 Tanggal 27 Desember 1972. SK Menteri Kehutanan No.420/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Propinsi Bengkulu seluas 920.964 Ha dengan luas Taman Buru Gunung Nanu’ua 7.271 Ha.

Sisi pantai dari Taman Buru Gunung Nanu’ua juga merupakan areal perkembangbiakan yang penting bagi beberapa spiesis Penyu. Terutama di sekitar hamparan pantai berpasir wilayah Teluk Kopi.

 

Letak lokasi.

Secara Geografis berada di 05°22’16” - 05°26’38” LS dan 102°14’11” - 102°22’15” BT. Berada di Ujung utara Pulau Enggano. Secara Administratif berada pada Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, di Samudera Hindia dan arah arah barat berbatasan dengan Cagar Alam Kioyo dan Samudera Hindia.

 

 

Potensi Wisata

Ada beberapa potensi di Pulau Enggano yang selama ini sebagiannya belum tereksplorasi dengan baik dan belum banyak dikenal, yang memungkinkan untuk di kembang dan dikelola diantranya adalah:

  • Crocodile Watching
  • Bird Watching
  • Camping Area, Tracking and Rock Climbing
  • Hunting
  • Wild Buffalo
  • Fishing
  • Sea Turlte
  • Surfing and Snorkling.
  • Danau
  • Bermalam di Pulau Dua