CSC, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46,
Cibinong 16911

+62 (21) 876 5056
biologi@mail.lipi.go.id

Ekspedisi Sumba 2016

Written by DEO

SUMBA EKSPEDISI BIORESOURCES 2016

 

 

Sumba merupakan salah satu pulau digugusan Kepulauan Nusa Tenggara, terletak antara Pulau Flores dan Timor, pada posisi 09°40’ Lintang Selatan dan 120°00’ Bujur Timur. Pulau ini luasnya 11.153km² dan termasuk dalam kategori pulau terluas nomor 73 didunia. Dibagian tenggara terdapat tiga pulau kecil: Salura, Manggudu, dan Kutak. Pulau Kutak berukuran sangat kecil sehingga kerap tidak tergambar dalam peta. Pulau Sumba mempunyai topografi berbukit-bukit dan bergelombang, bagian timur tampak lebih tinggi dari pada bagian baratnya, Puncak tertinggi ditemukan diGunung Wanggameti (1225m) yang terketak dibagian tenggara pulau ini.

EKOSISTEM SUMBA

Dikawasan Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti, khususnya diresort Desa Wanggameti sumber air utama terletak di Gunung Wanggameti dan muncul sebagai mata air-mata air turunan dibanyak tempat, antara lain mata air Kabanda, Kahalatau, Kanjailu, LaAu, dan yang terkenal adalah Laputi, sehingga dikawasan ini hutan pegunungan rendah (lowermontaneforest) dapat terbentuk dengan baik. Pertanian dan perkebunan juga umumnya dilakukan dilembah atau cerukantar bukit tersebut.

Di Taman Nasional Laiwangi-Wanggamet terdapat empat tipe ekosistem, yaitu:

            1.Ekosistem Padang Rumput (Savanna).

 

 

 

 2. Ekosistem Hutan Pegunungan Rendah

 

 

 

       3. Ekosistem Hutan Hujan Dataran Rendah.

 

 

  4. Ekosistem Pantai Berpasir.

 

 

 

FAUNA SUMBA 

Sejarah Eksplorasi Fauna Sumba

Pulau Sumba terletak digugusan kepulauan Sunda Kecil. Pulau ini memiliki luas 10.900km2 dengan titik tertinggi berada pada 1225mdpl diGunung Wanggameti, Sumba Timur. Diantara gugusan pulau-pulau tersebut, Pulau Sumba luasnya nomer ketiga paling kecil setelah Bali dan Lombok. Posisinya juga berjauhan dengan pulau-pulau tetangganya, sehingga sangat mungkin terjadii solasi geografis terhadap faunanya. Hal ini tentu nya sangat menarik untuk diteliti. Terbukti dengan banyak nya peneliti asing maupun local yang telah dating berkunjung ke Sumba. Dalam pembahasan berikut, sejarah eksplorasi fauna Sumba akan dibagi menjadi dua yaitu kelompok invertebrate dan vertebrata. Kelompok invertebrate terdiri dari serangga, krustasea dan moluska. Kelompok vertebrata terdiri dari mamalia, burung, ikan, amfibi dan reptil.

 

AMFIBI DAN REPTIL

 

  

AlfredH. Everet (1848–1898), seorang naturalis Inggris telah mengkoleksi beberapa spesimen ilmiah reptile dari Sumba yakni Hemidactylusfrenatus, Gehyramutilata, dan satu jenis katak yang kemudian diberi nama sebagai Litoriaeveretti oleh Boulenger pada tahun 1867. Sejak itu, beberapa ekspedisi ilmiah telah dilaksanakan, namun demikian pengetahuan tentang herpetofauna (amfibi dan reptil) dari Pulau Sumba secara umum masih banyak belum diketahui. Hal ini bias dilihat dari jumlah publikasi dan koleksi specimen ilmiah dari pulau tersebut. Jenis jenis amfibi dan reptile pulau ini lebih didominasi oleh Asian lineage dibandingkan dengan Autralian-Papuan lineage. Di Pulau Sumba, telah tercatat 25 jenis reptile (Uetz & Hosek, 2016).

 

BURUNG

 

    

     

   

 

Pulau ini tergolong memiliki jenis dan anak jenis yang cukup tinggi (Linsleyetal.,1998). Total ada sekitar 215 jenis burung diSumba (Burung Indonesia, 2015) dengan 13 jenis endemic dan 22 anak jenis endemic (Gilldan Donsker, 2015), dengan pembagian habitat berupa hutan, savanna, padang rumput, lahan basah, pantai, mangrove, persawahan / lading, dan pemukiman. Pada tahun 2014, Bird life International mengusulkan 6 lokasi diPulau Sumba untuk masuk kedalam kawasan IBA(Important Bird Area) yaitu wilayah Poronumbu, Yawila, Taman Nasional Manupeu Tanadaru, Tanjung Ngunju, Luku Melolo dan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti.

 

IKAN

Penggalian informasi keanekargaman jenis ikan diperairan tawar Pulau Sumba sudah dilakukan sejak lama, antara lain dilaporkan oleh Dr.C.L.Reuvens melalui terbitan Ley den Museum pada tahun 1894. Tercatat sebanyak delapan jenis yang sebagian besar merupakan ikan air tawar sekunder yaitu agak toleran terhadap salinitas. Jenis yang dimaksud adalah Ambassisambassis, Kuhliarupestris, Glossogobiusgiuris, Eleotrisaporos, Eleotrisfusca, Giurismargaritacea, dan Anabastestudineus. Di Museum Zoologi Bogor telah tersimpan koleksi dari pulau ini yang dilakukan oleh Dammerman namun jumlah jenisnya terbatas yaitu hanya Anguillamarorata dan Aplocheiluspanchax, serta terdapat satu jenis yang tidak diketahui kolektornya yaitu ikan nila (Oreochromisniloticus).

 

Ikan Potensial Untuk Dikonsumsi

  

 

Ikan Potensial Untuk Hias

 

 

KRUSTASEA

Ekspedisi Sumba yang terakhir kali dilaksanakan pada tahun 1949 oleh Dr.E.Sutter dan Dr.A.Bühler (Holthuis,1978). Kedua ilmuwan yang berkebangsaan Swiss ini menjelajahi bagian timur, tengah dan barat pulau ini. Dr.Sutter yang seorang zoologist (ahli hewan) tinggal di Pulau Sumba sekitar 6 bulan (21 Mei–31 Oktober 1949). Dari hasil ekspedisinya yang intensif telah diperoleh 50 jenis krustasea (16 jenis kepiting, 2 jenis kelomang dan 32 jenis udang). Sehingga sampai saat ini telah diketahui ada 64 jenis krustasea yang telah diketahui dari Pulau Sumba (25 jenis kepiting, 2 jenis kelomang dan 37 jenis udang).

 

 

Banyak jenis udang sungai yang ditemukan diSumba. Nampaknya hal ini memberi inspirasi kepada pembuat kain tradisional Sumba, khususnya kain Sumba Timur, untuk membuat berbagai motif udang pada kainnya. Selain itu, relief motif udang juga dijumpai pada makam pemeluk agama Marapu.

 

KUDA

 

 

Sandal woodpony atau yang lebih dikenal sebagai kuda sandel merupakan kuda pacu local asliI ndonesia yang dikembangkan di Pulau Sumba. Nama kuda sandel diambil dari kata sandal wood (cendana) yang merupakan komoditas ekspor dari Pulau Sumba dan pulau lainnya diNusa Tenggara pada masalalu. Kuda sandel memiliki postur yang lebih pendek jika dibandingkan dengan kuda-kuda pacu dari ras lain, namun kuda sandel memiliki keistimewaan pada kaki dan kuku yang kuat serta leher yang cenderung lebih besar sehingga kuat dan memiliki daya tahan (endurance) yang lama saat berlari.

 

Survey dilakukan pada tanggal 16 April sampai 2 Mei 2016 diwilayah Kabupeten Sumba Timur propinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi tersebut meliputi beberapa kecamatan dan desa termasuk desa-desa enclave yang berada didalam kawasan Taman Nasional Laiwangi - Wanggameti.

 

MAMALIA

 

    

   

 

Sejarah penelitian diSumba menunjukkan bahwa mamalia dikawasan ini masih perlu ditelaah lebih lanjut terkait status taksonomi dan keanekaragaman hayatinya. Awal penelitian jenis-jenis mamalia Sumba pernah dilakukan sekitar tahun 1924-1925 oleh Dammermandanvan Leeuwen, keduanya merupakan ilmuwan dari Buitenzorg Museum yang saat ini dikenal sebagai Museum Zoologi Bogor. Sejak saat itu belum banyak dilakukan penelitian tentang mamalia di Pulau Sumba. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Musser pada tahun 1972 tentang status taksonomi anak jenis dari tikus rumah Rattusrattus diSumba. Kemudian Dr.Kitchener dan koleganya dari Bidang Zoologi-LIPI, Western Australian Museum dan University of Western Australia pada tahun 1987 sampai dengan 1994.

Penelitian ekstensif dan intensif ini menghasilkan revisi, berbagai jenis baru dan anak jenis baru mamalia, termasuk yang berasal dari Pulau Sumba. Bidang Zoologi LIPI pada tahun 1984, 2004 dan 2016 melakukan ekspedisi ke Pulau Sumba untuk melengkapi informasi jenis dan sebaran mamalia diSumba.

 

MOLUSKA

 

     

 

Hasil survey ini berhasil mengidentifikasi sebanyak 21 Sukudan 44 jenis gas tropoda / keong. Apabila dikelompokkan berdasarkan habitatnya maka terdapat 5 suku dan 9 jenis keong air tawar serta 16 suku dan 35 keong darat. Apabila dikelompokkan berdasar kantitik lokasinya maka terdapat 26 jenis keong pada lokasi 1 dan 36 jenis keong dilokasi 2. Relatif lebih sedikitnya jumlah jenis keong dilokasi 1 mungkin dipengaruhi oleh kondisi alamnya. Wilayah dilokasi 1 cenderung panas dan kering, meskipun terletak jauh lebih tinggi disbanding lokasi 2. Kondisi permukaan serasah pada lantai hutan termasuk tipis dan juga kering. Sungai-sungai disana termasuk lebar dengan kondisi berbatu-batu dan berpasir serta berarus deras. Wilayah dilokasi 2 lebih lembab, kondisi serasah lebih tebal dan basah. Sungai – sungainya termasuk lebar dengan kondisi berbatu-batu dan berpasir dengan arus yang lebih lambat.

 

SERANGGA

 

    

 

Pulau Sumba telah menjadi daya tarik peneliti sejak dulu. Berdasarkan catatan koleksi serangga yang tersimpan di MZB, tercatat beberapa nama yang pernah melakukan eksplorasi dipulau ini, seperti Dammerman (1925), Dr.Stutter dan Hubner (1949) dan Wagner (1949). Sampai saat ini tercatat 139 jenis serangga dikoleksi dari Sumba, yaitu dari kelompok Acarina, Anopleura, Arachnida, Ixodidae, Coleoptera, Homoptera, Hemiptera, Hymenoptera, Odonata dan Orthoptera (Tabel1). Spesimen bangsa capung paling banyak dikoleksi, tercatat 36 jenis dari 21 marga, selanjutnya bangsa kumbang dengan 30 jenis dari 27 marga, bangsa belalang 22 jenis (16marga) dan bangsa kupu-kupu15 jenis (10marga). Tingginya bangsa capung yang dikoleksi mungkin berkaitan dengan banyaknya sungai atau sistem perairan yang merupakan habitat utama capung. Namun dari koleksi lama ini tidak ada satupun spesimen Diptera, sehingga eksplorasi saat ini sangat penting untuk menambah informasi sebaran bangsa lalat-lalatan di Pulau Sumba, terutama dari kelompok drosophilid.

Keragaman jenis serangga yang diungkapkan disini masih sangat kecil dan masih jauh dari gambaran biodiversitas serangga Sumba secara keseluruhan. Masih banyak informasi biodiversitas serangga yang belum terungkap sehingga perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut. Mengingat, penurunan kualitas hutan di beberapa taman nasional di Indonesia begitu pesat maka pelestarian hutan di taman nasional Wanggameti dan taman nasional di Sumba umumnya harus menjadi prioritas utama karena menjadi sumber mata air pulau Sumba.